Partikel itu
bernama Ria,
Yang sempat
bikin jiwa berdebat
Memilih yang
mana?
Percaya,
berarti akan jatuh pada hilang yang sama
Tak peduli,
hidup tanpa guncangan
Menjauh,
alur yang lurus
Menerima,
badainya akan besar…
Maka,
Kuputuskan
juga
Di ruang
mana kuletakkan partikel baru itu
Tak ada
ruang kosong di hatiku.
Semua terisi
ambisi dan khayal imaji.
Partikel itu
datang sendiri
Merapikan
jejal-jejal tak beraturan
Dan tidur di
sudut paling kelam di sana.
Ia bawa
lentera,
Dan
peta-peta bianglala bertahta,
Akhirnya,
Semua sudut
hati mengenalnya.
Ah,
bagaimana bisa?
Partikel itu
bernama Ria,
Yang pernah
bikin badai karena percaya
Siluetnya
memenuhi lembar-lembar kosong.
Karena partikel
itu memulai segalanya
Dari angka
1.
Malang,
09022012. 18.09 wib
‘Thank You,
Ria’
3 komentar:
Hmmm,,,
saya kok agak susah mencerna ya :D
tu puisi bikinan teman saya..
intinya, dy senang berteman dg saya..
gtu..
Posting Komentar