Aku pernah punya teman
sepertimu. Wajahnya tidak mirip, tidak… Hanya kondisinya saja yang nyaris sama. Sama-sama terpisah jarak, bertukar kabar dan cerita melalui pesan singkat. Tidak ada satu
hari pun terlewat tanpa kisah-kisahnya. Dia bilang sangat suka berteman
denganku. Ada hal yang dicarinya sejak dahulu, dan ketika itu ia temukan pada
diriku. Katanya, aku teman yang baik. Mendengarkannya di saat tawa dan air matanya. Sejak itulah, kami berikrar untuk menjadi sahabat untuk selamanya.
Ikrar itu terucap saat
detik-detik pesta perpisahan di Sekolah Menengah Pertama. Usiaku baru 15 tahun ketika
itu. Sedih sekali mendapati kenyataan akan berpisah dengannya. Tapi bagaimana
lagi? Pelangiku dan pelanginya memang berbeda, dan kami pun melukisnya di
bangku sekolah yang berbeda pula.
Dia anak yang sangat pemikir.
Terkadang terlalu memikirkan hal-hal yang sebenarnya remeh. Saking terlalu mikirnya, penyakit maag
yang dideritanya bisa kambuh. Aku
sering berkata padanya untuk menjadi orang yang santai alias tidak terlalu
memikirkan sesuatu. Tidak sehat bagi lambungmu, kukata begitu. Hehehe..
Hmm...ia juga anak yang suka menulis puisi sepertimu. Tetapi masih lebih hebat
dirimu. Karyanya tak sebanyak milikmu, kak. Sering ia mengirimkan stanza-stanza
melalui pesan singkat. Senang rasanya, sebab ketika itu aku sangat tidak bisa
menciptakan sebait puisi. Karyaku kaku dan sama sekali tidak berkonflik. Hehe..
Apa jejak yang ia tinggalkan untukku? Hm..ia mengajariku untuk menyukai film
Harry Potter dan Princess Hours. Dan sepertinya jejak itu masih
membekas hingga kini. Karena ingin menyelami dunianya, aku pun mengkhatamkan film HP dari episode pertama
hingga ketujuh. Beberapa buku tebal HP pun kubaca habis. Begitu juga dengan dengan film
Princess Hours, ia membuatku menjadi penonton setia channel Indosiar ketika itu. Sangat menyayangkan jika ketinggalan
satu episode saja. Hm, luar biasa, ia benar-benar mempengaruhi duniaku.
Secara tidak langsung, ia juga membuatku semakin mencintai olahraga bola
basket. Kami sering bermain bersama ketika tiba hari minggu. Dia juga menyukai es krim, sama sepertiku. Ketika berjanji bertemu,
kami selalu bergiliran mentraktir. Hehe..menyenangkan sekali ketika tiba gilirannya,
rasa es krimnya menjadi lebih enak.
Ia juga memiliki ritual yang hingga saat ini kutiru, yaitu menuliskan
harapan dan cita-cita ketika hari ulang tahun tiba. Ia tidak akan tidur sebelum
tanggal 8 Juni tiba (hari ulang tahunnya, red). Juga, ia tidak pernah absen mengucapkan
selamat pada hari istimewaku itu. Meninggalkan ribuan bahagia dengan
bungkusan-bungkusan kado yang nyasar ke alamat rumahku.
Dia juga lah yang membuatku berhijrah ke kota Malang. Kota Dingin yang tidak
pernah terlintas di benakku sebelumnya untuk menuntut ilmu di sana. Aku hanya
ingin belajar di kampus yang sama dengan sahabatku itu. Tinggal bersama dalam satu kost,
membayar semua hutang rindu yang telah kutabung selama 3 tahun. Sebelumnya ia
sudah diterima terlebih dahulu di kampus itu melalui jalur PMDK. Sedang aku,
baru mencoba meraihnya dengan menjajal SNMPTN.
Tapi ternyata kemampuan otakku tidak bisa bersaing dengan banyak calon mahasiswa lainnya. Aku harus menelan kekecewaan karena tidak diterima. Tapi usahaku tidak berhenti sampai di situ. Aku pun mencoba jalur lainnya. Mendaftarkan diri di jalur mandiri. Seraya menata kembali harapan yang sempat hancur itu. Tapi ternyata, kecewa itu terpaksa kuterima untuk yang kedua kalinya. Huft.. Dan Allah ternyata menuntunku untuk memilih kampus Islam ini. Jadilah, kami berpisah lagi.
Tapi ternyata kemampuan otakku tidak bisa bersaing dengan banyak calon mahasiswa lainnya. Aku harus menelan kekecewaan karena tidak diterima. Tapi usahaku tidak berhenti sampai di situ. Aku pun mencoba jalur lainnya. Mendaftarkan diri di jalur mandiri. Seraya menata kembali harapan yang sempat hancur itu. Tapi ternyata, kecewa itu terpaksa kuterima untuk yang kedua kalinya. Huft.. Dan Allah ternyata menuntunku untuk memilih kampus Islam ini. Jadilah, kami berpisah lagi.
Sejak itulah, komunikasi menjadi sangat jarang. Bahkan hingga saat ini.
Ia pun berlalu begitu saja dari episode hidupku. Meninggalkan beberapa jejak pada diriku. Awalnya
aku tidak bisa menerimanya. Kucoba segala cara, berharap semuanya
kembali seperti semula. Huft, sangat sulit. Sepertinya ada jurang yang sangat
lebar, yang memisahkan duniaku dan dunianya di sana. Sedih...
Hal itu membuatku sempat tidak percaya sosok seorang “teman”. Beberapa tahun
kulewati sendiri. Sebagian besar sedih dan kesahku kucurahkan pada tulisan dan do’a-do’a
kecil pada Rabb-ku.
11 Januari 2012 23:51 WIB
Potongan episodeku, kak..
2 komentar:
Sabarlah, kawan...
Masih banyak yang menyayangimu
Take it easy... Segala sesuatu di dunia memang tidak abadi. apapun itu, termasuk sahabat. dia pasti berlalu tersapu waktu. just enjoy your life, now.. :-)
Posting Komentar