Selasa, 21 Februari 2012

I’m A Bad Sister



Hari itu  adalah kemarin, ketika saya dan teman-teman saya menuju Balai Desa Tambakrejo-Jombang untuk berbagi ilmu dengan anak-anak desa. Kami menggelar bimbingan belajar (bimbel) kecil-kecilan, sebagai wujud pengabdian masyarakat selama kami Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sini.

Bimbel selama satu jam itu ternyata berhasil menyedot perhatian banyak siswa-siswi sekolah. Mereka datang dengan penuh semangat, membawa buku pelajarannya masing-masing. Ketika itu saya melihat seorang anak, diam, dan sepertinya agak pemalu. Hm, saya pun mendekatinya, menanyakan ia ingin belajar apa.

“Bahasa Inggris, kak” ujarnya. Hm, kusanggupi saja untuk mengajarinya. Ia pun serta merta membuka lembar kerja siswa (LKS) nya, penuh semangat. Lalu menunjukkan pada saya hasil belajarnya. Sepertinya anak ini rajin juga.  Ifda, nama anak itu. Si pemilik wajah imut ini ternyata masih duduk di kelas 5 sekolah dasar. Awalnya, ia takut untuk ‘membunyikan’ kata dalam bahasa Inggris. Suaranya lirih.
“Kenapa? Jangan takut. Kita belajar bersama di sini. Ayo coba lagi, lebih keras suaranya,” mendengar saya berkata begitu, ia pun menurut. Finally, ia pede melafalkan kata dan kalimat berbahasa Inggris. Hm..sukses! pekik saya dalam hati.

Saya begitu telaten dan sabar dalam mengajarinya. Entah berapa kali saya melontarkan pujian atas kepandaiannya itu. Reward, begitu istilah di dunia pendidikan. Memberikan penghargaan pada peserta didik dalam proses pembelajaran. Penghargaan terkecil bisa dilakukan dengan pujian. Setidaknya hal itu bisa membangkitkan semangat anak didik kita. Terbukti, setelah bimbel berakhir ia pun berkata “Kak, besok belajar lagi, ya?” pintanya. Hehehe..padahal besok materi bimbelnya berbeda? Semangat sekali dia..

Sejenak saya merenung, sebab tiba-tiba saja kaleidoskop masa kecil saya terputar kembali. Mengingatkan saya saat menemani adik saya belajar. Ketika itu saya tidak bisa sabar seperti ini. Saya justru sering marah jika adik saya tidak bisa mengerjakan soal-soal di LKSnya. Terkadang juga sempat memaki-maki karena begitu sebalnya. Lalu meninggalkannya dan ngambek, tidak mau mengajarinya lagi.

Huft, ada sesal di hati saya, mengapa bisa sabar dengan adik orang lain, tetapi tidak pada adik saya sendiri? Saya benar-benar merasa I’m a bad sister.


Jombang, 21 Februari 2012 05:49 WIB
Sorry, sista :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar