Hari itu adalah kemarin, ketika saya dan teman-teman
saya menuju Balai Desa Tambakrejo-Jombang untuk berbagi ilmu dengan anak-anak
desa. Kami menggelar bimbingan belajar (bimbel) kecil-kecilan, sebagai wujud
pengabdian masyarakat selama kami Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sini.
Bimbel selama
satu jam itu ternyata berhasil menyedot perhatian banyak siswa-siswi sekolah.
Mereka datang dengan penuh semangat, membawa buku pelajarannya masing-masing. Ketika
itu saya melihat seorang anak, diam, dan sepertinya agak pemalu. Hm, saya pun
mendekatinya, menanyakan ia ingin belajar apa.
“Bahasa Inggris, kak” ujarnya. Hm, kusanggupi saja
untuk mengajarinya. Ia pun serta merta membuka lembar kerja siswa (LKS) nya,
penuh semangat. Lalu menunjukkan pada saya hasil belajarnya. Sepertinya anak
ini rajin juga. Ifda, nama anak itu. Si
pemilik wajah imut ini ternyata masih duduk di kelas 5 sekolah dasar. Awalnya, ia
takut untuk ‘membunyikan’ kata dalam bahasa Inggris. Suaranya lirih.
“Kenapa? Jangan takut. Kita belajar bersama di
sini. Ayo coba lagi, lebih keras suaranya,” mendengar saya berkata begitu, ia
pun menurut. Finally, ia pede melafalkan kata dan kalimat berbahasa Inggris.
Hm..sukses! pekik saya dalam hati.
Saya begitu telaten dan sabar dalam mengajarinya. Entah
berapa kali saya melontarkan pujian atas kepandaiannya itu. Reward, begitu istilah di dunia
pendidikan. Memberikan penghargaan pada peserta didik dalam proses
pembelajaran. Penghargaan terkecil bisa dilakukan dengan pujian. Setidaknya hal
itu bisa membangkitkan semangat anak didik kita. Terbukti, setelah bimbel
berakhir ia pun berkata “Kak, besok belajar lagi, ya?” pintanya.
Hehehe..padahal besok materi bimbelnya berbeda? Semangat sekali dia..
Sejenak saya merenung, sebab tiba-tiba saja
kaleidoskop masa kecil saya terputar kembali. Mengingatkan saya saat menemani
adik saya belajar. Ketika itu saya tidak bisa sabar seperti ini. Saya justru sering
marah jika adik saya tidak bisa mengerjakan soal-soal di LKSnya. Terkadang juga
sempat memaki-maki karena begitu sebalnya. Lalu meninggalkannya dan
ngambek, tidak mau mengajarinya lagi.
Huft, ada sesal di hati saya, mengapa bisa sabar
dengan adik orang lain, tetapi tidak pada adik saya sendiri? Saya benar-benar
merasa I’m a bad sister.
Jombang, 21 Februari 2012 05:49 WIB
Sorry, sista :(

Tidak ada komentar:
Posting Komentar