Musyrif
dan musyrifah, begitulah sebutan bagi seorang pengurus di Ma’had Sunan Ampel
Al-Ali. Menjadi seperti mereka bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Karena begitu
banyak persyaratan untuk menjadi seorang mereka. Salah
satunya yaitu bersedia “bekerja rodi” atas nama keikhlasan. Mereka rela
melakukan apa saja demi mengharap ridho Allah dan barokah para Dewan Kyai.
Tidak ada yang lebih indah bagi mereka selain melihat raut bahagia di paras-paras
mahasantri.
Bukan narsis, juga bukan
sombong. Tulisan ini hanya buah pikir saya yang dihasilkan dari perenungan
mendalam di ruang pengap bernama toilet. Hmm..berikut beberapa peran yang
‘mungkin’ dapat mewakili gambaran sosok seorang musyrif dan musyrifah.Check it
out!
1.
Artis
Musyrif dan
musyrifah bisa dikategorikan sebagai seorang artis di tengah-tengah komunitas
mahasantri. Bagaimana tidak? Sepanjang jalan selalu ada yang menyapa. Entah itu
ketika berangkat kuliah atau sekedar beli makan di Lamongan. Hmm...walau senyum
mereka tak semanis Marshanda atau pun tak seganteng Dude Herlino, tetapi dengan
ikhlas diberikannya.
2.
Ustadz dan Ustadzah
Memiliki kedalaman spiritual adalah salah satu syarat
mutlak bagi seorang musyrif dan musyrifah. Mengapa? Sebab nantinya mereka akan membimbing
adik-adik kelas mereka di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali. Selain mengajar bahasa
Arab dan Inggris dalam gelapnya pagi buta, musyrif-musyrifah juga mendampingi berbagai
kegiatan ta’lim (pembelajaran, red.).Oleh sebab itulah, mereka benar-benar
dituntut untuk memiliki skill bahasa dan pengetahuan keagamaan lebih.
Yaah..kalau gak bisa ‘lebih’, pas-pasan juga boleh, deh.
Yang penting gak malu-maluin.
3.
Security
Hmm..profesi
yang dijalani oleh Bu Ririn (satpam putri UIN Maliki, red.) ternyata juga diembat
oleh musyrif dan musyrifah. Lho, kok bisa? Bagaimana tidak?
Setiap malam mereka wajib stand by di pos satpam untuk menjaga stabilitas
ma’had. Mengecek dan meneliti setiap mahasantri yang terlambat. Menginterogasi
mereka, dari mana, abis ikut kegiatan apa?, dll. Jika kegiatan yang
mereka ikuti tergolong illegal alias tidak mendapatkan ijin dari Keamanan Pusat,
hmm..ngge monggo, baca Yasin dulu.
Belum lagi
jika ada kasus kehilangan, musyrif dan musyrifah bagaikan polisi yang tengah memburu
tersangka. Menginterogasi setiap orang yang dicurigai. Yah, meski pencurinya
kadang sulit ditemukan, sih.
Musyrif dan
musyrifah juga kerap menggelar razia akbar. Tujuannya adalah untuk menemukan
barang-barang terlarang, semisal celana pensil, pakaian ketat, heater,
kompor, magic com, dkk yang terkadang nyasar secara sengaja di
kamar mahasantri. Hmm..itulah saat di mana mereka memainkan peran security.
4.
Cleaning Service
Setiap
tahun sebelum mahasantri yang imut-imut itu datang dan bermukim di MSAA,
musyrif-musyrifah bersiap untuk menyambut mereka. Salah satunya dengan menyibukkan
diri membersihkan mabna masing-masing. Mereka berkerja rodi, menyapu, dan memunguti
partikel-partikel yang mengganggu keindahan mata. Mulai dari sepatu-sepatu
butut yang tercecer di rak, tumpukan kertas koran usang, kardus-kardus tak
bertuan, hingga seperangkat peralatan mandi yang terlupakan atau sengaja
dilupakan. Dengan memutar musik nge-beat dari isti’lamat, bersenjatakan
sapu, cikrak, dan kemoceng, mereka siap membersihkan mabna mulai dari
lantai 1 hingga lantai 4. Waaw..benar-benar pekerjaan yang menguras energi.
Huft..
5.
Sahabat
Komunikasi
yang terjalin antar musyrif-musyrifah dengan mahasantri kadang menciptakan
hubungan emosional yang erat. Mahasantri tidak segan membagi kesah dengan
mereka. Walau sibuk, musyrif/ah tetap setia menemani dan mendengarkan curahan
hati mereka. Hal semacam ini tentu sudah melebihi hubungan instruktif antar
musyrif/ah dan mahasantri.
6.
Ayah dan Ibu
Jauh dari
orang tua tidak berarti petaka bagi mahasantri, di MSAA, para musyrif/ah kerap
menjadi pengganti mereka. Mereka berperan sebagai ayah dan ibu yang mengayomi,
mendidik, dan memberikan teladan bagi anak-anaknya. Ketika mahasantri sakit,
mereka bersedia merawatnya. Mulai dari sekedar memberi perhatian, memberi obat,
bahkan menjaga mereka saat opname di rumah sakit.
7.
Pejabat Penting
Tidak kalah
dengan para menteri yang tergabung dalam Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),
musyrif/ah juga hobi menggelar rapat, lho. Mulai dari rapat antar devisi
di mabna, rapat evaluasi bulanan, rapat UPKM, dll. Ditambah lagi jika terdapat even-even
tertentu, maka akan ada yang namanya rapat Manasik Haji, rapat Muwadaah, rapat Maulid Nabi, dll. Hmm..tak terhitung jumlah rapat yang harus dilakoni dalam
satu bulan.
Hal
tersebut merupakan upaya untuk menciptakan program kerja yang baik, efektif,
dan efisien bagi para mahasantri MSAA.
Yah,
begitulah paparan saya terkait beberapa peran yang kerap dilakoni
musyrif-musyrifah. Ternyata lumayan kompleks juga. Tetapi memang begitulah
adanya.
Jombang, 25 Februari 2012 07:40 WIB
1 komentar:
ada lagi,,,sebagai aktivis kampus, facebooker, dan pedagang
Posting Komentar