Sabtu, 25 Februari 2012

Musyrif dan Musyrifah, Multi Talent Person

Musyrif dan musyrifah, begitulah sebutan bagi seorang pengurus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali. Menjadi seperti mereka bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Karena begitu banyak persyaratan untuk menjadi seorang mereka. Salah satunya yaitu bersedia “bekerja rodi” atas nama keikhlasan. Mereka rela melakukan apa saja demi mengharap ridho Allah dan barokah para Dewan Kyai. Tidak ada yang lebih indah bagi mereka selain melihat raut bahagia di paras-paras mahasantri.

Bukan narsis, juga bukan sombong. Tulisan ini hanya buah pikir saya yang dihasilkan dari perenungan mendalam di ruang pengap bernama toilet. Hmm..berikut beberapa peran yang ‘mungkin’ dapat mewakili gambaran sosok seorang musyrif dan musyrifah.Check it out!
1.        Artis
Musyrif dan musyrifah bisa dikategorikan sebagai seorang artis di tengah-tengah komunitas mahasantri. Bagaimana tidak? Sepanjang jalan selalu ada yang menyapa. Entah itu ketika berangkat kuliah atau sekedar beli makan di Lamongan. Hmm...walau senyum mereka tak semanis Marshanda atau pun tak seganteng Dude Herlino, tetapi dengan ikhlas diberikannya.

2.        Ustadz dan Ustadzah
Memiliki kedalaman spiritual adalah salah satu syarat mutlak bagi seorang musyrif dan musyrifah. Mengapa? Sebab nantinya mereka akan membimbing adik-adik kelas mereka di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali. Selain mengajar bahasa Arab dan Inggris dalam gelapnya pagi buta, musyrif-musyrifah juga mendampingi berbagai kegiatan ta’lim (pembelajaran, red.).Oleh sebab itulah, mereka benar-benar dituntut untuk memiliki skill bahasa dan pengetahuan keagamaan lebih. Yaah..kalau gak bisa ‘lebih’, pas-pasan juga boleh, deh. Yang penting gak malu-maluin


3.        Security
Hmm..profesi yang dijalani oleh Bu Ririn (satpam putri UIN Maliki, red.) ternyata juga diembat oleh musyrif dan musyrifah. Lho, kok bisa? Bagaimana tidak? Setiap malam mereka wajib stand by di pos satpam untuk menjaga stabilitas ma’had. Mengecek dan meneliti setiap mahasantri yang terlambat. Menginterogasi mereka, dari mana, abis ikut kegiatan apa?, dll. Jika kegiatan yang mereka ikuti tergolong illegal alias tidak mendapatkan ijin dari Keamanan Pusat, hmm..ngge monggo, baca Yasin dulu.
Belum lagi jika ada kasus kehilangan, musyrif dan musyrifah bagaikan polisi yang tengah memburu tersangka. Menginterogasi setiap orang yang dicurigai. Yah, meski pencurinya kadang sulit ditemukan, sih.
Musyrif dan musyrifah juga kerap menggelar razia akbar. Tujuannya adalah untuk menemukan barang-barang terlarang, semisal celana pensil, pakaian ketat, heater, kompor, magic com, dkk yang terkadang nyasar secara sengaja di kamar mahasantri. Hmm..itulah saat di mana mereka memainkan peran security.

4.        Cleaning Service
Setiap tahun sebelum mahasantri yang imut-imut itu datang dan bermukim di MSAA, musyrif-musyrifah bersiap untuk menyambut mereka. Salah satunya dengan menyibukkan diri membersihkan mabna masing-masing. Mereka berkerja rodi, menyapu, dan memunguti partikel-partikel yang mengganggu keindahan mata. Mulai dari sepatu-sepatu butut yang tercecer di rak, tumpukan kertas koran usang, kardus-kardus tak bertuan, hingga seperangkat peralatan mandi yang terlupakan atau sengaja dilupakan. Dengan memutar musik nge-beat dari isti’lamat, bersenjatakan sapu, cikrak, dan kemoceng, mereka siap membersihkan mabna mulai dari lantai 1 hingga lantai 4. Waaw..benar-benar pekerjaan yang menguras energi. Huft..

5.        Sahabat
Komunikasi yang terjalin antar musyrif-musyrifah dengan mahasantri kadang menciptakan hubungan emosional yang erat. Mahasantri tidak segan membagi kesah dengan mereka. Walau sibuk, musyrif/ah tetap setia menemani dan mendengarkan curahan hati mereka. Hal semacam ini tentu sudah melebihi hubungan instruktif antar musyrif/ah dan mahasantri.

6.        Ayah dan Ibu
Jauh dari orang tua tidak berarti petaka bagi mahasantri, di MSAA, para musyrif/ah kerap menjadi pengganti mereka. Mereka berperan sebagai ayah dan ibu yang mengayomi, mendidik, dan memberikan teladan bagi anak-anaknya. Ketika mahasantri sakit, mereka bersedia merawatnya. Mulai dari sekedar memberi perhatian, memberi obat, bahkan menjaga mereka saat opname di rumah sakit.

7.        Pejabat Penting
Tidak kalah dengan para menteri yang tergabung dalam Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), musyrif/ah juga hobi menggelar rapat, lho. Mulai dari rapat antar devisi di mabna, rapat evaluasi bulanan, rapat UPKM, dll. Ditambah lagi jika terdapat even-even tertentu, maka akan ada yang namanya rapat Manasik Haji, rapat Muwadaah, rapat Maulid Nabi, dll. Hmm..tak terhitung jumlah rapat yang harus dilakoni dalam satu bulan.
Hal tersebut merupakan upaya untuk menciptakan program kerja yang baik, efektif, dan efisien bagi para mahasantri MSAA.

            Yah, begitulah paparan saya terkait beberapa peran yang kerap dilakoni musyrif-musyrifah. Ternyata lumayan kompleks juga. Tetapi memang begitulah adanya.

Jombang, 25 Februari 2012 07:40 WIB


1 komentar:

Muhammad Faruq mengatakan...

ada lagi,,,sebagai aktivis kampus, facebooker, dan pedagang

Posting Komentar