Sabtu, 30 Agustus 2014
Abah
Satu waktu...
Aula tengah pondok begitu pikuk dengan manusia. Beberapa menit yang lalu seminar tentang kewirausahaan baru rampung digelar. Panitia yang tergabung dalam Badan Eksekutif Santri sedang sibuk membongkar tatanan dekorasi. Beberapa santri lainnya sibuk ber-selfie ria mengabadikan diri pada momen kegiatan yang sebenarnya sudah berakhir itu. Saya, santri non-panitia berusaha menyingkirkan diri dari keramaiannya. Saya ayunkan langkah menuju ruang koperasi, setidaknya saya bisa istirahat sebentar di sana sembari menunggu panitia selesai membereskan semuanya.
Belum sampai di tempat yang dituju, langkah saya tercekat. Mata saya tak berkedip melihat pemandangan di depan saya. Beberapa meter di depan saya berdiri, saya melihat orang nomor satu di pondok ini tengah bersujud di atas selembar selimut kumal. Selimut yang biasanya digunakan teman-teman untuk alas setrika. Beliau tengah shalat ashar. Tepatnya di lorong depan kamar santri yang kanan kirinya penuh dengan barang-barang perlengkapan seminar tadi. Saya masih memandanginya dengan perasaan penuh haru. Teman-teman berjubel di belakang saya, agak tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Kok gak kamu kasih sajadah, sih?" kata teman saya.
"Saya gak tahu kapan beliau masuk, tahu-tahu beliau sudah sholat," jawab yang lain.
"Ya Allah....Abah....," sahut yang lain.
Saya hampir menangis ketika itu. Menyadari betapa sederhananya kyai saya yang satu ini. Bahkan untuk hal seistimewa shalat pun beliau tak ingin merepotkan santri yang sebenarnya sangat bersedia untuk direpoti.
30082014 23.55 WIB
-lahumul fatihah...kangen dawuhipun panjenengan, Abah..

2 komentar:
Semoga Beliau senantiasa diberi kesehatan dalam berdakwah,.. :)
Amin Yaa Rabb....
Posting Komentar