Senin, 04 Agustus 2014

Aku dan Ibuku


Ibu, apa kabar? Anak sulungmu ini datang menjenguk. Maaf, karena lama tak kemari. Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan baru saya di kota. Belum lagi tugas akhir saya yang harus segera saya rampungkan. Saya merindukanmu, Bu. Apakah Ibu juga merindukan saya? Ah, tak usah saya tanya pun kerinduan itu sudah tampak di binar matamu.

Ibu, saya bawakan sekeranjang buah apel kesukaan Ibu. Sebelum kemari saya mampir di supermarket. Lihatlah Bu, anakmu ini membelinya dengan uang gaji pertamanya. Suka, kah? Lain kali akan saya bawakan yang lebih banyak lagi. Akan saya belikan juga makanan-makanan kesukaan Ibu yang lain. Saya tahu, Bu, sebenarnya bukan hal-hal itu yang Ibu inginkan.

Ibu, apa kabar? Saya datang lagi. Tapi kali ini saya tidak sendiri. Saya bersama seseorang. Iya, dia yang sedang membuka helm itu. Perkenalkan Bu, dia teman kerja saya. Dia bilang ingin bertemu dengan Ibu. Tanyakan saja apa maksudnya datang kemari. Saya pikir Ibu sudah mengerti. Karena sebelumnya saya tak pernah pulang bersama dengan seorang lelaki. Bu, setelah dia pulang nanti, katakan pada saya apa pendapat Ibu tentangnya. Jika Ibu mengijinkan, maka saya akan belajar untuk mulai menyukainya.


Ibu, maaf, saya belum bisa pulang. Saya hanya ingin menyampaikan pada Ibu melalui surat udara ini bahwa dia berniat untuk bertemu dengan Ibu lagi. Tapi kali ini dia akan ditemani orang tuanya. Dia bilang ingin melamar saya, Bu. Bagaimana menurut Ibu? Setelah istikharah waktu itu Ibu bilang tak mengapa bersamanya? Saya pun sudah menyampaikan apa yang telah ibu katakan padanya. Bu, bolehkah saya hidup bersamanya? Saya tahu Ibu pasti sedih. Karena saya akan semakin jarang kemari. Saya akan semakin jarang bertemu Ibu.

29 Juli 2014 01:05 WIB

Midnight, cry...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar