Saya tahu. Saya bahkan sangat tahu. Bahwa saya sedang tak menjadi diri sendiri. Semua keluh kesah saya atas hidup karena saya tak ikhlas dengan apa yang terjadi. Saya tidak ikhlas diri saya menjadi seperti ini. Saya merasa bersembunyi di balik sebuah potret 'kelaziman' yang dipandang baik oleh kacamata kebanyakan orang.
Saya pun tahu, hal apa yang paling bisa membuat saya berbunga-bunga ketika melakukannya. Sesuatu yang mampu saya berikan secara cuma-cuma pada orang lain tanpa kompensansi apapun. Paling mahal, mereka menukarnya dengan sebentuk senyuman dan ucapan terima kasih. Itu saja, sudah bisa membuat saya bahagia setengah mati.
Membuang waktu? Tentu tidak. Apa yang telah digariskan-Nya tak pernah ada yang sia-sia. Hanya saja saya masih dalam perjalanan memahami pesan-Nya, yaitu sebuah hikmah yang mengiringi setiap kebijakan-Nya.
Teman, kita punya kepala yang berbeda. Isi otaknya pun berbeda. Kita punya paradigma dan cara masing-masing dalam menjalani hidup yang rumit ini. Tak perlu kesal dengan cara saya yang tak kau sukai. Bukankah kau itu penganut paham pluralis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar