"Tabunganmu ada berapa?" tanya Ibu setelah beberapa menit berbasa-basi. Siang tadi saya mengirim pesan, meminta ayah untuk mentransfer sejumlah uang yang akan saya gunakan untuk membayar biaya kuliah saya.
"Hanya cukup untuk membayar separuh dari SPP saya, Bu,"
"Gimana, ya..." suara Ibu terdengar bingung. Ada jeda di antara ucapan berikutnya. Itu menandakan Ibu tengah bimbang. Saya hafal itu.
"Kenapa, Bu? uangnya gak ada ya?" saya berspekulasi.
"Hmmm.....yak apa, ya.." kalimat itu semakin menunjukkan kebingungannya.
"Ibu gak ada uang, kah?" tanya saya lagi
"Sepertinya tabungan kemarin masih sangat cukup?" ucap saya lagi.
"Hm, sudah habis semua,"
"Lho? kok bisa? di buat apa?" saya kaget sekaligus khawatir. Ibu terdiam sejenak.
"Ibu buat ngredit rumah di kota. Buat kamu besok-besok,"
Ucapannya membuat saya menarik napas panjang. Saya diam. Memikirkan sisa gaji ayah setelah ini. Saya tidak tega.
"Apa tidak bisa dibatalkan?" kata saya, lirih.
"Tidak bisa. Surat-suratnya sudah dikirimkan, uang mukanya juga sudah dibayarkan dan insyAllah bulan depan gaji Ayah sudah dipotong,"
Saya kembali diam. Ada jarak yang tiba-tiba membuat pembicaraan semakin beku.
"Kamu gak seneng tah, nak?" tanya Ibu.
Saya masih diam. Ibu memanggil-manggil saya beberapa kali. Saya tak menjawab.
Ada gumpalan menyesakkan yang membuat napas saya tak beraturan. Sepersekian detik kemudian butiran-butiran bening itu berjatuhan. Saya menutup pembicaraan petang itu tanpa salam. Deringan berikutnya tak saya hiraukan. Saya sedih, Bu...gumam saya dalam hati.
Kenapa kalian tak membicarakannya dahulu dengan saya? Bukankah sebelumnya kalian sudah mengatakan akan membatalkan rencana itu? Saya sudah bilang kalau saya tidak mau, kan? Saya ingin berusaha dengan batu pondasi yang akan saya pasang sendiri.
Saat ini saya memang belum mampu berpijak di atas kaki saya sendiri. Untuk menegakkan badan saja, saya masih bersandar pada kalian. Keseimbangan saya masih goyah jika harus berlepas tangan dari genggaman kalian. Tetapi, saya sudah sangat ingin berlari meskipun belum mampu berdiri.
Saya menyalahkan kalian yang membuat saya merasa sebersalah ini. Kalau begini.....saya merasa semakin merepotkan kalian. Saya merasa menjadi beban kalian. Saya menyesal mengapa harus menambah biaya pendidikan lagi. Saya menyesal atas ketidakmampuan saya.
20082014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar