Selasa, 26 Agustus 2014
Sebuah Profesi
Saya tak pernah melihatmu sebahagia itu, Bunda...
Dua puluh tiga tahun bersamamu, baru kali itu saya melihatmu tersenyum lepas. Ada luapan syukur yang tak terbatas. Saya pun bahagia. Bukan atas apa yang telah saya dapatkan. Tetapi lebih karena bahagia yang Bunda rasakan.
Bunda, tahukah?
Saya sebenarnya tak ingin seperti ini. Saya tak ingin seterikat ini. Entahlah....engkau boleh mengatakan saya anak yang aneh. Dikala banyak orang mencari-cari apa yang tengah berada dalam genggaman saya, saya justru ingin melepaskannya.
Bunda...
Cukup lama saya berpikir. Meredam perasaan berontak di hati saya. Apa yang hendak Tuhan sampaikan pada saya melalui garis takdir ini?
Akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan dari beberapa presmis positif dan negatif saya pada Tuhan. Bunda...saya akan bertahan. Demi sebentuk senyum di wajahmu. Inilah baktiku pada Bunda dan negeri ini...
26082014 17.08 WIB
di gelapnya kamarku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar