Selamat malam, teman...
Ah, bolehkah saya menyebutmu ‘teman’? Mmm...mungkin saja kamu akan
mengijinkannya. Kita memang tak dekat. Saya hanya mengenalmu melalui teman
saya. Ya, teman saya yang saat ini begitu merindukan surat udara darimu. Saya
tidak menyangka dia akan sejatuh itu. Padahal dulunya ia sempat menolak buah
apel yang kamu berikan.
Tahukah, teman?
Saya sempat menaruh cemburu yang teramat sangat kepadamu. Saya juga
sempat kehilangan mood saya ketika melihat wajahmu. Dan, saya juga pernah menangis
karenamu. Tahukah mengapa? Karena ketika itu kamu sedang menyukai teman saya.
Sifat manusia saya mengatakan, bisa jadi suatu saat nanti kamu akan pergi
membawanya, dan praktis saya pun akan kehilangan dia.
Teman, perasaan kehilangan itu...sungguh saya sempat merasakannya. Dua
tahun yang lalu, tepatnya ketika awal hijrah saya ke tempat yang baru, saya
sempat merasa kehilangannya. Entah, apa yang telah kamu lakukan padanya hingga
saya merasa begitu kehilangan perhatiannya. Padahal, waktu itu adalah masa-masa
tersulit bagi saya. Sendiri di kota yang baru tanpa mengenal seorang pun. Dan
pergi dari rumah dengan ijin Ayah yang setengah hati. Belum lagi tumpukan rindu-rindu
saya pada masa lalu. Ah, keberadaanmu di hatinya semakin memperburuk keadaan saya.
Saya sempat menyesali keputusan saya ketika itu. Saya pun sempat berpikir untuk
kembali dan mengurungkan semua mimpi-mimpi saya.
Di tengah semua kesendirian itu, saya kemudian bersandar pada-Nya. Munafik
memang, mengingat-Nya hanya ketika di waktu sempit. Tapi memang hanya Dia yang
saya miliki ketika itu. Dengan kuasa-Nya Dia pun menghapus rasa sedih saya dan mengantarkan
saya menemui cahaya. Membuka hati saya pada hikmah-hikmah yang Ia tunjukkan di
sekeliling saya. Alhamdulillah...
Teman, saat ini kamu kemana? Saya mempertanyakan ‘ada’mu untuknya. Masihkah
rasa itu berada di tempatnya? Jika iya, katakanlah. Jika tidak, juga
katakanlah. Saya tidak suka keabu-abuanmu. Pilih saja, hitam atau putih? Jangan
memenjarakan teman saya pada warna yang terus membuatnya rindu seperti ini.
Teman, dari awal saya memang sudah tak suka padamu. Dan saat ini saya
semakin tidak menyukaimu. Pada akhirnya nanti, apakah saya akan semakin tak
menyukaimu?
28 Juli 2014 23:39 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar