03.48 WIB
Pagi ini, saya terbangun dengan hati berdebar. Lima jam sebelum kamu kesini saya sudah bedebar sehebat ini. Semakin detiknya berkurang, debaran itu semakin terasa. Pagi ini, di hari ke-163 setelah perjumpaan pertama kita dahulu, kamu akan datang meminang saya.
07.00 WIB
Kamu menelepon saya, mengatakan bahwa beberapa menit lagi akan berangkat menuju kemari. Hati saya semakin tak karuan. Bergegas saya menuju kamar dan mengganti baju yang sudah bau asap penggorengan ini. Berusaha tampil serapi mungkin ketika bertemu denganmu nanti.
09.13 WIB
Akhirnya kamu datang. Haaaahhhh....hati saya semakin tak karuan. Saya mondar-mandir tidak jelas sembari senyum-senyum geje. Sepupu-sepupu saya menertawakan kegelisahan saya itu. Entah, saya tak tahu seperti apa wajah saya ketika itu. Pasti jelek sekali.
"Cepet gih, kamu salaman dulu sama keluarganya masmu," ujar Bu Lek saya.
"Sekarang?" tanya saya
"Lha iya, kapan lagi..?"
"Entar aja wes"
"Aduuuhhh....dulien nduk ..." Bu Lik mendorong punggung saya dengan paksa. Sampailah saya di ruang tamu dengan perasaan canggung. Dengan senyum malu-malu saya pun menyalami mereka satu persatu. Sepersekian menit kemudian, saya kembali ke dapur. #salting
10.02 WIB
Saya tak tahu apa yang mereka bicarakan di sana. Saya hanya mendengar sesekali mereka bercanda dan tertawa. Sedang membicarakan saya, kah? Perlahan saya bergeser mendekati ruang tamu. Mencoba mencuri dengar apa yang terjadi di sana. Tak lama kemudian, ibu masuk ke dalam rumah. Beliau tersenyum.
"Ayo, waktunya nyerahkan cincin," kata Ibu saya.
"Hah?!"
Belum selesai saya kaget, Ibu sudah menarik tangan saya.Orang-orang berkerumun, lalu ibumu membuka kotak cincin berwarna merah itu. Tangannya bergetar. Perlahan ia menyematkan lingkaran kuning itu di jari manis sebelah kiri saya. Saya menahan napas.
11.15 WIB
Kamu sudah pulang. Tetapi saya masih terduduk disini, mengamati telapak tangan kiri saya yang mendadak berubah. Kamu meninggalkan sesuatu di sana. Sesuatu yang kini melingkar di jari saya. Sesuatu yang menandakan bahwa saya sudah terikat sebuah janji sakral padamu.
10 Agustus 2014
bagaimana rasanya ketika kamu mengucapkan ijab itu, ya? saya tak tahu akan seperti apa debaran saya nanti

6 komentar:
uhuyyyyy..mubarok buk..senenng mendengarnya..
syukron2....doanya ngge...
alhamdulillah.. selamat buk..
ya, trima kasih
:) berdebar kencang oh hatiku,.ciyee mbak ya salting juga tho ^^
hahahaha.....
Posting Komentar