Rabu, 19 September 2012

Kepada Para Surya dalam Hidupku


 Aku tidak tahu bagaimana bentuk hatiku saat ini. Seperti buih di lautan, ia terombang-ambing oleh gulungan ombak. Pasang, lalu surut kembali. Tidak ada kestabilan dan keseimbangan. Meski hatiku masih tertinggal di tepi pantai, tetapi kapal yang kutumpangi sudah terlanjur berlayar. Membawaku pada pulau berikutnya. Bekal yang kukantongi sangat banyak, hingga merepotkan ayah dan ibu ketika mengemasnya. Sejujurnya, aku tidak tega. Lambaian tangan mereka di dermaga cukup membuat hujan di hatiku menderas.

Tuhan...betapa aku belum mampu memberikan sesuatu pada mereka. Justru merekalah yang tanpa jeda mengorbankan dirinya untukku. Jagalah mereka duhai Tuhan..sebagaimana mereka menjagaku hingga sampai pada titik ini.

Ibu..ingin sekali kukatakan bahwa aku tidak ingin pergi. Aku ingin meringankan beban dalam hari-harimu. Melihatmu tersenyum setiap pagi adalah kelegaan tersendiri bagi hatiku. Meski tidak jarang kemarahan itu kau tujukan pada setiap kebodohan yang kulakukan.

Ayah..ingin sekali kukatakan bahwa aku tidak ingin pergi. Ketika tahu bahwa beban di punggungmu ternyata akan seberat ini. Memikir ulang tentang segala keputusan mahal ini. Ada gumpalan yang menyesak ketika aku tidak bisa memberikan apa yang engkau harapkan. Maafkan ya, Yah.. Aku pasti kembali setelah ini. Sangat bersedia melakukan apapun yang engkau pinta.

Kapalku sudah berlayar hampir ke tengah. Nahkoda mengatakan bahwa akan ada badai di depan sana. Semoga itu doa-doamu, duhai Ibu, Ayah..yang masih dan selalu tersimpan dalam genggaman. Menguatkan langkah-langkahku di sepanjang perjalanan ini.

15 September 2012 07:24 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar