Rabu, 19 September 2012

Hadiah Kebebasan


Semenjak hari itu, sebenarnya saya sudah menggenggam sebuah kebebasan. Ya, hari di mana saya bersikukuh dengan mimpi-mimpi idealis di ruang cita. Menawar keputusan Ayah dengan paradigma-paradigma saya yang sepertinya terlampau jauh untuk digapai. Tetapi entah, keyakinan apa yang merasuki saya ketika itu. Saya nekat mengambil keputusan dengan nyeri di hati. Tentang langkah yang tidaklah mudah. Saya harus terjatuh dan menangis berulangkali. Meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik  saja jika saya percaya.
“Riya boleh jadi apa saja dan bekerja di mana saja. Riya bebas menentukannya,” ujar Ayah di sambungan telepon pagi itu. Saya menangis mendengarnya. Merasakan bahwa independensi itu kini benar-benar berada dalam genggaman saya. Mungkin karena langkah yang terlampau berani ini. Atau mungkin karena keras kepala yang tiba-tiba saya miliki. Seketika itu saya berjanji pada hati, untuk membawa kebebasan ini pada akhirnya nanti. Sebab segala keputusan memiliki konsekuensi.

18 September 2012 0.30 wib
Saya hanya ingin melihatmu bahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar