Semenjak hari itu, sebenarnya saya sudah menggenggam sebuah kebebasan.
Ya, hari di mana saya bersikukuh dengan mimpi-mimpi idealis di ruang cita. Menawar
keputusan Ayah dengan paradigma-paradigma saya yang sepertinya terlampau jauh
untuk digapai. Tetapi entah, keyakinan apa yang merasuki saya ketika itu. Saya nekat
mengambil keputusan dengan nyeri di hati. Tentang langkah yang tidaklah mudah.
Saya harus terjatuh dan menangis berulangkali. Meyakinkan bahwa segalanya akan
baik-baik saja jika saya percaya.
“Riya boleh jadi apa saja dan bekerja di mana saja. Riya bebas
menentukannya,” ujar Ayah di sambungan telepon pagi itu. Saya menangis
mendengarnya. Merasakan bahwa independensi itu kini benar-benar berada dalam
genggaman saya. Mungkin karena langkah yang terlampau berani ini. Atau mungkin
karena keras kepala yang tiba-tiba saya miliki. Seketika itu saya berjanji pada
hati, untuk membawa kebebasan ini pada akhirnya nanti. Sebab segala keputusan
memiliki konsekuensi.
18 September 2012 0.30 wib
Saya hanya ingin melihatmu bahagia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar