Matahari begitu terik. Aku harus memayungi mata dengan telapak tangan agar dapat konsentrasi berkendara. Memanggul tas berisi surat dan formulir pendaftaran pascasarjana yang akan kurimkan via pos hari ini.
Fiuuh, lelahnya. Sudah lama rasanya tidak mengayuh sepeda seperti ini. Membuatku teringat masa-masa sekolah dulu. Riya yang kurus dan hitam karena sering menantang matahari. Riya yang suka bermain dengan sepupu laki-lakinya. Riya yang hobi manjat pohon, main kasti dan petak umpet. Riya yang belum lega jika bermain bola tanpa menjebol kandang sapi milik bibinya. Bersama dua orang sepupu lainnya, aku pun menendang-nendang bola sekenanya, sambil menghayal berada di lapangan bola bersama Captain Tsubasa, tokoh idolaku saat itu.
Biasanya kami bermain bola ketika matahari tidak terlampau menyengat. Sekitar pukul dua hingga setengah tiga sore. Sialnya itu adalah jam-jam tidur siang para orang tua. Secara tidak langsung kami adalah pengganggu istirahat mereka. Hehehe... Brukkk..! satu tendangan mautku meleset dari gawang dan mendarat di permukaan dinding kandang sapi yang terbuat dari bambu. Penyok, pastinya. Ketakutan, kami pun mengendap-endap pergi. Sepak bola usai sudah. Aku tidak tahu apa terjadi setelah tregedi itu. Kudengar dari sepupuku bahwa paman dan bibiku marah besar. Waaww..
Riya kecil juga hobi menangkap capung di sawah, loh. Berbekal lidi dari rangkaian sapu dan getah dri pohon, aku dan teman-teman berburu serangga bermata besar itu. Aku harus hati-hati dalam melangkah, agar si capung tidak kaget dan kabur. Satu..dua..happ.. Berhasil..! Sayapnya lengket di ujung lidiku yang bergetah. Lekas kumasukkan hasil buruanku dalam kantong plastik. Proses ini biasanya berlangsung berulang-ulang hingga akhirnya aku merasa puas dan bosan.
Jika sudah begitu, aku bergegas menuju halaman belakang rumah. Menemui Pino dan Kio, ayam peliharaan ibuku. Capung-capung hasil buruanku tadi kulempar ke arah mereka. Kedua ayam itu berebut tak karuan. Tiba-tiba saja ada perasaan berdosa dalam hati melihat si capung dimutilasi oleh cakar dan paruh Pino dan Kio. Aku sedikit merasa seperti pembunuh.
"Sembilan belas ribu lima ratus, Mbak," ujar petugas pos mengembalikanku pada kesadaran. Kukeluarkan pecahan dua puluh ribuan sebagai ongkos pengiriman.
"Terima kasih,"
"Sama-sama..."
19 Juli 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar