Terima kasih, Unnie...
Telah menjadi pelita dalam temaramnya duniaku. Menggenggam cahaya bersamamu
merupakan satu cerita yang tak biasa dalam perjalananku. Mengajarkan padaku
tentang dunia yang tak sesempit pandangan mata. Memperkenalkanku pada ribuan mimpi
yang membebas dan tak terbatas.
Terima kasih, Unnie...
Bersedia memeluk erat jemari sembari berjalan mengiringiku. Meski langkah
kita seringkali tak sama, tetapi waktu membuatnya selalu tampak selaras.
Terima kasih lagi, Unnie...
Telah menyediakan ruang untuk kutempati. Meski tak seluas ruang untuknya, tapi
setidaknya aku pernah terbaca di sana. Di tempat yang membuatku merasa berada. Sekotak
ruang di dalam hatimu. Yang tidak dapat kubeli dengan mata uang jenis apapun di
dunia.
Unnie, sekali lagi terima kasih...
Bersedia memerankan tokoh ‘kakak’ dalam salah satu episode perjalananku. Seseorang
yang seringkali menghapus air mataku yang belum sempat terjatuh. Membantuku untuk
kembali berdiri usai badai yang menghempas. Meyakinkanku untuk tetap berjalan,
bertahan dari iri dan cemburu padanya.
Unnie...
Rindu ini tidak akan habis untuk Unnie... Janganlah membawanya serta,
karena ia teramat sakit untuk hatimu. Seandainya masih ada pertemuan dalam jeda
panjang ini, aku tidak ingin ada jarak antara aku dan Unnie. Hingga aku dapat mendengar
jantung Unnie yang mendetak. Mengatakan bahwa
aku menyayangi Unnie dengan bahasa yang hanya dapat dimengerti oleh hati.
11 Juli 2012
20:28 wib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar