Wah, keren. Buku “Suer, Nulis Itu Mudah” benar-benar
menyihir saya. Saya yang amatiran ini jadi termotivasi untuk semakin giat
menulis. Sekalipun menulis hal remeh temeh yang sering saya alami setiap hari. Terima
kasih, Mr. Ersis, Sang Inspirator.
Sebelum membaca buku imut bersampul cokelat itu, saya memang
suka kegiatan satu ini. Menulis, bagi saya dapat menjadi jalan keluar tersendiri
dari setiap masalah yang saya hadapi. Mengapa begitu? Maklum, status mahasiswa
yang melekat pada saya terkadang melimpahkan gunungan tugas yang harus saya
pikul. Saking menumpuknya tugas itu, kadang membuat saya jadi seperti
tertindih dan tidak bisa bernafas (baca: stres). Pikiran saya jadi mudah kalut
dan gampang emosi. Nah, ketika itulah saya benar-benar membutuhkan kegiatan menulis.
Menumpahkan emosi-emosi saya pada rangkaian kata yang berujung pada beberapa
paragraf. Hasilnya, plong. Beban yang saya pikul tadi terasa meringan.
Syaraf-syaraf yang tadinya tegang jadi mengendur. Begitulah, menulis seakan menjadi
‘pelarian’ paling efektif bagi saya.
Setelah itu saya pun menerapkan ‘cara pelarian’ ini untuk
beberapa jenis perasaan yang saya rasa. Marah, kecewa, cemburu, rindu, patah
hati, dan kawan-kawannya, yang kerap melanda anak muda seperti saya. Ceileh.
Hasilnya, plong, lagi. Lega banget. Lebih melegakan daripada curhat
ke teman dekat, yang terkadang kurang pas memberikan solusi pada saya. Jadilah,
kegiatan menulis saya konkritkan sebagai media penyaluran kegalauan. Wah..wah..
Lebih lanjut, saya memposisikan menulis sebagai media untuk
bergialog dengan Allah. Lho, kok bisa? Ya, bisa dong. Begini
ceritanya. Dalam proses menulis, saya menyebut nama-Nya, baik di awal maupun di
setiap paragraf tulisan saya. Yang jelas tidak di setiap awal kalimat, lho.
Terlalu banyak nanti. Nah, ketika itulah menulis seperti saat saya sedang
berdoa seusai shalat. Atau seperti menulis surat yang dilayangkan khusus
untuk-Nya. Saya bebas menyampaikan setiap permasalahan dan kegalauan yang
tengah melanda jiwa. Sembari memohon pertolongan pada-Nya agar menunjukkan
setapak jalan yang menuntun pada terang. Rasanya begitu nyaman. Terkadang, di
tengah proses menjatuhkan jari pada keyboard itu, air mata saya ikut-ikutan
jatuh. Hiks..hiks.. Tapi biasanya saya buru-buru mengusapnya, malu kalau
ketahuan teman-teman kamar saya. Maklum lah, saya kan hidup di asrama, jadi
satu kamar tidak sendiri. Melelehkan air mata sedikit saja mungkin akan segera
disadari. Secara, ya, mereka itu orang-orang yang peka terhadap mimik wajah. Ups,
jadi geje nulisnya. Ok, kembali ke cerita. Hasilnya, lagi-lagi, plong,
saudara-saudara. Wah, luar biasa. Dari proses menulis ini saya benar-benar mendapatkan
solusi dan ketentraman hati.
Jadi,
teman, manakala kita tengah bersusah hati, tidak ada salahnya kan, jika
‘menulis surat’ untuk-Nya? Siapa tahu selembar surat dalam microsoft word
itu bisa menghilangkan kegalauan?
20 Mei 2012
15:38 wib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar