Senin, 21 Mei 2012

Menulis, Menyalurkan Kegalauan


Wah, keren. Buku “Suer, Nulis Itu Mudah” benar-benar menyihir saya. Saya yang amatiran ini jadi termotivasi untuk semakin giat menulis. Sekalipun menulis hal remeh temeh yang sering saya alami setiap hari. Terima kasih, Mr. Ersis, Sang Inspirator.

Sebelum membaca buku imut bersampul cokelat itu, saya memang suka kegiatan satu ini. Menulis, bagi saya dapat menjadi jalan keluar tersendiri dari setiap masalah yang saya hadapi. Mengapa begitu? Maklum, status mahasiswa yang melekat pada saya terkadang melimpahkan gunungan tugas yang harus saya pikul. Saking menumpuknya tugas itu, kadang membuat saya jadi seperti tertindih dan tidak bisa bernafas (baca: stres). Pikiran saya jadi mudah kalut dan gampang emosi. Nah, ketika itulah saya benar-benar membutuhkan kegiatan menulis. Menumpahkan emosi-emosi saya pada rangkaian kata yang berujung pada beberapa paragraf. Hasilnya, plong. Beban yang saya pikul tadi terasa meringan. Syaraf-syaraf yang tadinya tegang jadi mengendur. Begitulah, menulis seakan menjadi ‘pelarian’ paling efektif bagi saya.


Setelah itu saya pun menerapkan ‘cara pelarian’ ini untuk beberapa jenis perasaan yang saya rasa. Marah, kecewa, cemburu, rindu, patah hati, dan kawan-kawannya, yang kerap melanda anak muda seperti saya. Ceileh. Hasilnya, plong, lagi. Lega banget. Lebih melegakan daripada curhat ke teman dekat, yang terkadang kurang pas memberikan solusi pada saya. Jadilah, kegiatan menulis saya konkritkan sebagai media penyaluran kegalauan. Wah..wah..

Lebih lanjut, saya memposisikan menulis sebagai media untuk bergialog dengan Allah. Lho, kok bisa? Ya, bisa dong. Begini ceritanya. Dalam proses menulis, saya menyebut nama-Nya, baik di awal maupun di setiap paragraf tulisan saya. Yang jelas tidak di setiap awal kalimat, lho. Terlalu banyak nanti. Nah, ketika itulah menulis seperti saat saya sedang berdoa seusai shalat. Atau seperti menulis surat yang dilayangkan khusus untuk-Nya. Saya bebas menyampaikan setiap permasalahan dan kegalauan yang tengah melanda jiwa. Sembari memohon pertolongan pada-Nya agar menunjukkan setapak jalan yang menuntun pada terang. Rasanya begitu nyaman. Terkadang, di tengah proses menjatuhkan jari pada keyboard itu, air mata saya ikut-ikutan jatuh. Hiks..hiks.. Tapi biasanya saya buru-buru mengusapnya, malu kalau ketahuan teman-teman kamar saya. Maklum lah, saya kan hidup di asrama, jadi satu kamar tidak sendiri. Melelehkan air mata sedikit saja mungkin akan segera disadari. Secara, ya, mereka itu orang-orang yang peka terhadap mimik wajah. Ups, jadi geje nulisnya. Ok, kembali ke cerita. Hasilnya, lagi-lagi, plong, saudara-saudara. Wah, luar biasa. Dari proses menulis ini saya benar-benar mendapatkan solusi dan ketentraman hati.

Jadi, teman, manakala kita tengah bersusah hati, tidak ada salahnya kan, jika ‘menulis surat’ untuk-Nya? Siapa tahu selembar surat dalam microsoft word itu bisa menghilangkan kegalauan?

20 Mei 2012
15:38 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar