Bumi semakin panas. Suhu rata-rata
permukaannya terus meningkat. Kutub-kutub mencair, sehingga permukaan air laut
meninggi. Akibatnya, banyak daratan tenggelam. Sedikitnya, 1200 rumah di
Kelurahan Belawan, Medan terendam rob saat bulan purnama dan air laut pasang
(8/4). Iklim turut berubah ekstrim, dan cuaca pun menjadi tidak menentu. Sebagaimana
yang terjadi di Indonesia saat ini, hujan lebat masih saja turun di bulan
April. Padahal, bulan-bulan ini seharusnya merupakan musim pancaroba atau
peralihan dari musim penghujan ke kemarau. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan
dampak dari pemanasan global yang semakin hari menghangatkan suhu bumi.
Pemanasan
global salah satunya disebabkan oleh melimpahnya jumlah karbondioksida (CO2)
di atmosfer. Menurut penelitian dalam kurun waktu 150 tahun terakhir, penambahan
CO2 di atmosfer begitu tinggi. Gas yang merupakan polutan utama
penyebab pemanasan global ini mayoritas dihasilkan oleh emisi gas buang kendaraan
bermotor. Hal ini bukan tanpa alasan, karena jumlah kendaraan bermotor terus
saja meningkat. Sebagaimana yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan
Kepolisian RI, bahwa jumlah kendaraan bermotor di Indonesia naik dari 67,3%
menjadi 76,9% dalam kurun waktu satu tahun. Dapat dibayangkan betapa banyaknya gumpalan
asap berbahaya yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor.
Atau
sebagaimana yang dilakukan oleh Hotel Santika di Bengkulu, yang menamakan aksi
mereka dengan Earth Hour, yaitu suatu kegiatan pemadaman listrik selama
60 menit. Hal ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi listrik negara. Adapula
aksi yang dilakukan oleh Mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki saat Car
Free Day di kota Malang. Mereka mengarak Topeng Malangan keliling kota, membersihkan
aliran sungai dari sampah dan menciptakan vertical garden, sebuah model
taman untuk lahan yang sempit.
Hemat
BBM
Dalam
skala pribadi, kita dapat mengurangi dampak pemanasan global dengan cara mengurangi
pemakaian kendaraan bermotor. Bepergian menggunakan kendaraan umum, bersepeda
atau pun berjalan kaki. Sudah saatnya kita meniru budaya sederhana yang
diterapkan oleh Negara Jepang. Mayoritas penduduk Negeri Sakura tersebut
memilih untuk berjalan kaki ketika berangkat ke sekolah atau kantor. Jika
perjalanan yang ditempuhnya tergolong jauh, maka mereka akan menggunakan jasa
kereta api. Apabila hal semacam itu dapat kita terapkan dalam kehidupan
sehari-hari, maka tentu akan sangat membantu pemerintah dalam menghemat
penggunaan BBM. Mengingat para pejabat kita sedang mengalami kegalauan akan defisit
anggaran negara sebesar 3,5% akibat subsidi bahan bakar minyak (BBM). Bahkan,
dalam rangka menekan defisit tersebut, pemerintah terpaksa mengurangi belanja negara.
Akhirnya, pemerintah pun menghimbau untuk menghemat konsumsi BBM agar persediaannya
dapat mencukupi kebutuhan seluruh kalangan.
Jika
dikalkulasi, tindakan penghematan ini akan mendatangkan lebih banyak maslahat.
Salah satunya adalah dapat mengurangi emisi gas CO2 di atmosfer. Praktis,
hal tersebut dapat mengurangi dampak pemanasan global. Setidaknya hal kecil inilah
yang dapat kita persembahkan sebagai wujud cinta kita kepada bumi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar