Senin, 07 Mei 2012

Hemat BBM Tanda Cinta Bumi


Bumi semakin panas. Suhu rata-rata permukaannya terus meningkat. Kutub-kutub mencair, sehingga permukaan air laut meninggi. Akibatnya, banyak daratan tenggelam. Sedikitnya, 1200 rumah di Kelurahan Belawan, Medan terendam rob saat bulan purnama dan air laut pasang (8/4). Iklim turut berubah ekstrim, dan cuaca pun menjadi tidak menentu. Sebagaimana yang terjadi di Indonesia saat ini, hujan lebat masih saja turun di bulan April. Padahal, bulan-bulan ini seharusnya merupakan musim pancaroba atau peralihan dari musim penghujan ke kemarau. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan dampak dari pemanasan global yang semakin hari menghangatkan suhu bumi.
Pemanasan global salah satunya disebabkan oleh melimpahnya jumlah karbondioksida (CO2) di atmosfer. Menurut penelitian dalam kurun waktu 150 tahun terakhir, penambahan CO2 di atmosfer begitu tinggi. Gas yang merupakan polutan utama penyebab pemanasan global ini mayoritas dihasilkan oleh emisi gas buang kendaraan bermotor. Hal ini bukan tanpa alasan, karena jumlah kendaraan bermotor terus saja meningkat. Sebagaimana yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kepolisian RI, bahwa jumlah kendaraan bermotor di Indonesia naik dari 67,3% menjadi 76,9% dalam kurun waktu satu tahun. Dapat dibayangkan betapa banyaknya gumpalan asap berbahaya yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor.
Menyambut Hari Bumi yang jatuh pada 22 April lalu, berbagai upaya meminimalisir pemanasan global terus dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat di seluruh belahan dunia. Mereka kompak bersuara dan mengkampanyekan gerakan mengurangi pemanasan global. Negara-negara di dunia telah sepakat untuk mengurangi emisi karbondioksida, salah satunya melalui Protokol Kyoto, yang menerapkan kebijakan untuk meninggikan pajak bahan bakar. Harapannya, agar masyarakat terpicu untuk menghemat bahan bakar sehingga polusi pun akan berkurang.
Atau sebagaimana yang dilakukan oleh Hotel Santika di Bengkulu, yang menamakan aksi mereka dengan Earth Hour, yaitu suatu kegiatan pemadaman listrik selama 60 menit. Hal ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi listrik negara. Adapula aksi yang dilakukan oleh Mahasiswa Teknik Arsitektur UIN Maliki saat Car Free Day di kota Malang. Mereka mengarak Topeng Malangan keliling kota, membersihkan aliran sungai dari sampah dan menciptakan vertical garden, sebuah model taman untuk lahan yang sempit.

Hemat BBM
Dalam skala pribadi, kita dapat mengurangi dampak pemanasan global dengan cara mengurangi pemakaian kendaraan bermotor. Bepergian menggunakan kendaraan umum, bersepeda atau pun berjalan kaki. Sudah saatnya kita meniru budaya sederhana yang diterapkan oleh Negara Jepang. Mayoritas penduduk Negeri Sakura tersebut memilih untuk berjalan kaki ketika berangkat ke sekolah atau kantor. Jika perjalanan yang ditempuhnya tergolong jauh, maka mereka akan menggunakan jasa kereta api. Apabila hal semacam itu dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka tentu akan sangat membantu pemerintah dalam menghemat penggunaan BBM. Mengingat para pejabat kita sedang mengalami kegalauan akan defisit anggaran negara sebesar 3,5% akibat subsidi bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, dalam rangka menekan defisit tersebut, pemerintah terpaksa mengurangi belanja negara. Akhirnya, pemerintah pun menghimbau untuk menghemat konsumsi BBM agar persediaannya dapat mencukupi kebutuhan seluruh kalangan.
Jika dikalkulasi, tindakan penghematan ini akan mendatangkan lebih banyak maslahat. Salah satunya adalah dapat mengurangi emisi gas CO2 di atmosfer. Praktis, hal tersebut dapat mengurangi dampak pemanasan global. Setidaknya hal kecil inilah yang dapat kita persembahkan sebagai wujud cinta kita kepada bumi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar