Perpisahan. Satu kata yang benar-benar menyakitkan. Satu kata yang merelakan mata menderaskan derita yang ditanggung hati. Satu kata yang menakutkan dalam setiap episode perjalanan cerita ini. Cepat atau lambat, ia pun akan menjemput. Segalanya, bahkan senyum orang-orang terkasih dibuatnya abstrak. Meninggalkan jejak kenangan yang hanya pantas untuk dikenang. Tidak lebih.
Aku sudah mempersiapkan hatiku. Menghadapi ‘kata’ itu. Aku sudah terbiasa dengannya. Berulang kali ‘kata’ itu menyapa beberapa episode hidupku. Terlepas dari pahit manisnya kata perpisahan itu. Aku sudah sangat siap.
Membayangkannya, aku tidak mau. Sekalipun sudah sangat siap. Tidak mau menghadirkannya dalam pikirku saat ini. Membuat sesak saja. Aku hanya ingin menikmati pelangi hari ini. Menghirup residu waktu yang ada, bersama-sama. Mencipta senyum dan tawa di atas segalanya. Meminjamkan bahu untuk hati yang menduka. Aku hanya ingin berbagi. Itu saja…
Satu saja harapan. Aku ingin perjalanan ini berakhir manis. Berpisah dengan indah. Tidak meninggalkan satu pun hati yang terluka.
6 Maret 2012 WIB 18:04 WIB

3 komentar:
Wah abot bahasane Mbak hehe,,perpisahan itu pasti ada dikala ada pertemuan Mbak :)
Gimana kalau pinjam pundaknya umi aja hehe
abi loh...justru umi yang pinjem pundaknya mbak rya tiap pulang sekolah, panas soalnya..wkwkwkw
harapanku pun sama mbak ry, bertemu kosong, aku harap perpisahan juga kosong tanpa menyisakan beban dan sakit hati. namun nampaknya kenyataan tak sesuai harapanku.
Hmm..begitulah. Bertemu lalu berpisah
Wah, gak salah tuh? Nikita mah yg sering pinjem pundak saya. Menghindar dari matahari
Posting Komentar