Senin, 05 Maret 2012

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin


Aku bukan orang yang begitu peduli pada novel. Membacanya, menurutku membuang waktu. Apalagi membelinya, sangat enggan kantong ini kurogoh. Sebab ia hanya fantasi. Cerita yang kadang dilebih-lebihkan oleh penulisnya. Amat jarang terjadi dalam realitas. Buku-buku yang kumiliki mayoritas berbau sains, fakta-fakta aneh yang konyol, komik-komik menggelitik, dan sejenisnya.

Tetapi sejak mengenal dia, pikiran itu berubah 180 derajat. Awalnya hanya ingin mengerti dunianya saja. Namun, lambat laun aku terbawa arusnya. Dua hari lalu aku baru saja membeli novel yang ditulis Tere Liye. Judulnya “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Sebenarnya buku ini sudah diterbitkan sejak dua tahun silam. Hanya aku saja yang baru membacanya. Dia, sesuai pertanyaanku dulu, telah lebih dulu mengkhatamkannya. Hm, aku tidak heran. Karena itu memang dunianya.



Ok, kembali ke Tere Liye. Buku itu membuatku merasa sesak setelah membacanya. Akhir ceritanya tidak bahagia. Tapi sangat banyak memberiku pelajaran berharga. Belajar mengamati dan menilai karakter setiap tokoh yang dicipta.

Tania, si tokoh utama kisah ini. Bercerita dengan alur maju-mundur tentang potongan-potongan episode kehidupannya. Dimulai ketika ia berjalan tertatih sebagai gadis kecil pengamen yang tak punya langit impian. Yang kemudian menemukan sosok malaikat penolong. Malaikat yang mengangkatnya dari dasar kemiskinan. Malaikat yang membuatnya mampu terbang ke tanah berbeda, menuntut ilmu di Singapura. Malaikat yang ternyata menumbuhkan sebentuk perasaan di hatinya. Cinta.

Satu hal yang tidak kusuka dari sosoknya, ketika ia sedang dalam posisi kelam, cemburu pada Ratna, pacar malaikat itu. Segala hal yang Ratna lakukan menjadi jelek di hadapannya. Padahal Ratna begitu tulus tersenyum dan menyayangi Tania.

Danar, malaikat itu. Malaikat yang dicintai Tania dalam diam. Sesosok dewasa yang begitu sempurna. Tatapan teduhnya, senyum, perangai, semuanya. Ia begitu tulus menyayangi Tania, adik, dan ibunya. Tanpa syarat dan kompensasi apapun. Belajar sesuatu dari tokoh Danar. Sosok yang amat dermawan, menurutku. Tak hanya materi yang ia bagi, tetapi segalanya.


Tetapi satu hal yang tidak kusuka dari Danar. Ia membuat rumit perjalanan itu. Malaikat yang berusia dua kali usia Tania ini ternyata juga menyimpan perasaan yang sama. Tapi ia tak mengatakannya. Haduh, gimana coba? Kasihan tuh si Tania, dia sudah berjuang hidup dan mati menahan cinta. Setelah perasaan itu benar-benar berhasil ia kubur, potongan-potongan puzzle teka-teki itu mengutuh. Mengungkapkan segalanya. Cinta itu..


Sayangnya sudah terlambat. Danar telah menikah dengan Ratna ketika itu. Akhirnya Tania pun meninggalkan semuanya. Segala yang rumit itu. Huft...kalo gak rumit mah gak jadi novel yah? hehe.. 


Setidaknya itulah yang kudapat. Setelah menukar beberapa lembar uang puluhan dengan 264 halaman buku Tere Liye ini. Pelajaran yang begitu berharga. Ternyata novel tak seburuk yang kubayangkan sebelumnya.


Berikut beberapa novel Tere Liye lainnya yang bisa kamu download.
Bidadari-bidadari Surga
Hafalan Shalat Delisa
Moga Bunda Disayang Allah


03 Maret 2012 17:30 WIB
Terima kasih novel, terima kasih dia, kakak dan sahabatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar