Aku bukan orang yang begitu
peduli pada novel. Membacanya, menurutku membuang waktu. Apalagi membelinya,
sangat enggan kantong ini kurogoh. Sebab ia hanya fantasi. Cerita yang kadang
dilebih-lebihkan oleh penulisnya. Amat jarang terjadi dalam realitas. Buku-buku
yang kumiliki mayoritas berbau sains, fakta-fakta aneh yang konyol, komik-komik
menggelitik, dan sejenisnya.
Tetapi sejak mengenal dia,
pikiran itu berubah 180 derajat. Awalnya hanya ingin mengerti dunianya saja.
Namun, lambat laun aku terbawa arusnya. Dua hari lalu aku baru saja membeli novel
yang ditulis Tere Liye. Judulnya “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”.
Sebenarnya buku ini sudah diterbitkan sejak dua tahun silam. Hanya aku saja
yang baru membacanya. Dia, sesuai pertanyaanku dulu, telah lebih dulu mengkhatamkannya. Hm, aku tidak heran.
Karena itu memang dunianya.
Ok, kembali ke Tere Liye. Buku
itu membuatku merasa sesak setelah membacanya. Akhir ceritanya tidak bahagia.
Tapi sangat banyak memberiku pelajaran berharga. Belajar mengamati dan menilai
karakter setiap tokoh yang dicipta.
Tania, si tokoh utama kisah ini.
Bercerita dengan alur maju-mundur tentang potongan-potongan episode kehidupannya.
Dimulai ketika ia berjalan tertatih sebagai gadis kecil pengamen yang tak punya
langit impian. Yang kemudian menemukan sosok malaikat penolong. Malaikat yang
mengangkatnya dari dasar kemiskinan. Malaikat yang membuatnya mampu terbang ke
tanah berbeda, menuntut ilmu di Singapura. Malaikat yang ternyata menumbuhkan
sebentuk perasaan di hatinya. Cinta.
Satu hal yang tidak kusuka
dari sosoknya, ketika ia sedang dalam posisi kelam, cemburu pada Ratna, pacar
malaikat itu. Segala hal yang Ratna lakukan menjadi jelek di
hadapannya. Padahal Ratna begitu tulus tersenyum dan menyayangi Tania.
Danar, malaikat itu. Malaikat
yang dicintai Tania dalam diam. Sesosok dewasa yang begitu sempurna. Tatapan
teduhnya, senyum, perangai, semuanya. Ia begitu tulus menyayangi Tania, adik,
dan ibunya. Tanpa syarat dan kompensasi apapun. Belajar sesuatu dari tokoh
Danar. Sosok yang amat dermawan, menurutku. Tak hanya materi yang ia bagi,
tetapi segalanya.
Tetapi satu hal yang tidak kusuka dari Danar. Ia membuat rumit perjalanan itu. Malaikat yang berusia dua kali usia Tania ini ternyata juga menyimpan perasaan yang sama. Tapi ia tak mengatakannya. Haduh, gimana coba? Kasihan tuh si Tania, dia sudah berjuang hidup dan mati menahan cinta. Setelah perasaan itu benar-benar berhasil ia kubur, potongan-potongan puzzle teka-teki itu mengutuh. Mengungkapkan segalanya. Cinta itu..
Sayangnya sudah terlambat. Danar telah menikah dengan Ratna ketika itu. Akhirnya Tania pun meninggalkan semuanya. Segala yang rumit itu. Huft...kalo gak rumit mah gak jadi novel yah? hehe..
Tetapi satu hal yang tidak kusuka dari Danar. Ia membuat rumit perjalanan itu. Malaikat yang berusia dua kali usia Tania ini ternyata juga menyimpan perasaan yang sama. Tapi ia tak mengatakannya. Haduh, gimana coba? Kasihan tuh si Tania, dia sudah berjuang hidup dan mati menahan cinta. Setelah perasaan itu benar-benar berhasil ia kubur, potongan-potongan puzzle teka-teki itu mengutuh. Mengungkapkan segalanya. Cinta itu..
Sayangnya sudah terlambat. Danar telah menikah dengan Ratna ketika itu. Akhirnya Tania pun meninggalkan semuanya. Segala yang rumit itu. Huft...kalo gak rumit mah gak jadi novel yah? hehe..
Setidaknya itulah yang kudapat. Setelah menukar beberapa lembar uang puluhan dengan 264 halaman buku Tere Liye ini. Pelajaran yang begitu berharga. Ternyata novel tak seburuk yang kubayangkan sebelumnya.
Berikut beberapa novel Tere Liye lainnya yang bisa kamu download.
Bidadari-bidadari Surga
Hafalan Shalat Delisa
Moga Bunda Disayang Allah
03 Maret 2012 17:30 WIB
Terima kasih novel, terima kasih dia, kakak dan sahabatku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar