Minggu, 26 Oktober 2014

My Truly Passion


Saya sudah berjalan sejauh ini. Di setapak jalan yang berbeda nol koma sekian derajat dari yang sebelumnya saya inginkan. Semakin saya melangkah, maka besaran derajat itu semakin besar dan semakin menjauhkan saya dari tujuan sebelumnya

Menggambar, salah satu hal yang sangat saya suka. Saya masih ingat hasil gambar pertama yang mampu meyakinkan saya bahwa diri saya berbakat. Ketika itu saya masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Iseng-iseng saya menggambar karakter kartun Winnie The Pooh yang terdapat pada tas kotak-kotak yang biasa saya gunakan untuk tempat mukena. Dan hasilnya, mengagumkan. Baru kali itu saya mencoba membuat gambar berbeda. Sebelumnya, buku gambar saya hanya berisi sketsa dua gunung dengan jalan tengah yang membelah areal persawahan. Saya sendiri bahkan tak menyangka jika saya bisa menggambar dengan sedemikian bagusnya. Sejak saat itulah saya mulai percaya diri dengan bakat saya yang satu ini.


Ketika SMP, saya semakin sering mengikuti perlombaan menggambar. Jika ada kesempatan, langsung saya sikat. Saya tidak peduli akan menang atau kalah, yang penting saya ikut. Pengalaman adalah hal yang paling saya cari ketika itu. Dari lima kompetisi yang pernah saya ikuti selama SMP, hanya dua kali saja yang bisa saya menangkan. Itu pun hanya setingkat kecamatan. Saya masih ingat, waktu itu saya mengikuti lomba menggambar dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia. Saya menggambar sekelompok anak yang tengah merayakan 17 Agustus-an, ada yang berlomba balap karung, balap kelereng, dan panjat pinang. Saya hanya mewarnainya dengan pensil warna yang tak begitu terang. Tapi entah, bagaimana ceritanya gambar itu bisa keluar sebagai pemenang. Terlepas dari semua itu, saya sangat bahagia. Saya pun masih ingat ketika prosesi penganugerahan juaranya. Saya diminta untuk menghadiri acara yang digelar pada malam hari di kantor kecamatan. Ayah mengantar saya dengan sepeda motor. Saya lalu duduk di deretan kursi dengan satu wajah guru yang kenal. Tak berapa lama kemudian, nama saya dipanggil dan piala itu pun berada digenggaman saya. That’s my first trophy.


manga
Di kelas 2 SMP saya mulai berkenalan dengan manga, kartun khas jepang. Saya mulai gemar membaca dan menggambar karakter manga. Seiring dengan itu saya pun rutin membeli komik jepang dari uang saku yang saya sisihkan. Saya membelinya tanpa sepengetahuan orang tua saya. Mengapa harus sembunyi-sembunyi? Karena mereka mengancam tidak akan memberi saya uang saku jika ketahuan membeli komik. Maklum, waktu itu harga komik per jilidnya berkisar antara 10 hingga 13 ribu rupiah. Cukup mahal untuk ukuran anak SMP. Tetapi hingga komik saya terkumpul 33 jilid pun, mereka tidak mengetahuinya. Hihihihi...

Saat SMA, hobi menggambar saya semakin menggila. Setiap kali bosan mendengarkan guru mengajar, saya seringkali mengalihkannya pada kegiatan menggambar. Saya juga bergabung dalam ekstrakurikuler melukis di sekolah. Berharap grup tersebut dapat semakin mengasah kemampuan saya. Saya diajari menggambar perspektif dengan beberapa sudut pandang. Saya juga diajari membuat sketsa wajah menggunakan skala, juga diajari melukis di atas kanvas. Meskipun hasilnya tak seberapa bagus, tetapi saya menikmati setiap prosesnya dengan hati berbunga-bunga. Penghargaan dari lomba-lomba yang saya ikuti selama SMA semakin banyak. Saya pun direkrut menjadi tim ilustrator majalah sekolah. Di tahun kedua saya dikirimkan menjadi layouter dalam kompetisi Radar Teen yang digelar Radar Bromo, Jawa Pos Group.

Di akhir tahun ketiga SMA saya mulai melirik beberapa nama perguruan tinggi yang memiliki jurusan seni rupa. Saya bermaksud untuk melanjutkan studi pada jurusan tersebut. Setelah menimbang-nimbang, saya pun menentukan satu nama, Universitas Negeri Malang. Angan-angan saya sudah melambung ke Kota Dingin tersebut, memuaskan passion yang telah saya temukan sejak SD ini. Tetapi, langkah kaki saya ke tempat itu terhenti karena sebuah alasan.
“Mau jadi apa kamu ambil seni rupa? Seniman itu nggak punya masa depan,” ujar orang tua menyiutkan nyali saya. Saya yang tak mengerti akan definisi ‘masa depan’ hanya diam saja.
“Lebih baik kamu ambil Pendidikan Biologi atau apalah, kan sesuai tuh sama jurusanmu sekarang,” tambahnya. 

Ya, saya memang tengah belajar di jurusan IPA. Tetapi saya sama sekali tak mendapatkan kesenangan seperti yang saya rasakan ketika menggambar. Saya tak suka matematika atau pun fisika yang seharusnya saya mahir di dalamnya. Saya hanya terpikat pada kontekstualitas yang disajikan Biologi. Ketika itu saya tak cukup berani untuk menentukan pilihan saya. Saya tak berani menawar keinginan orang tua saya. Akhirnya, formulir pendaftaran SNMPTN itu saya isi dengan jurusan Pendidikan Biologi dan Kimia di universitas yang sama, UM. Singkat cerita, saya tidak lolos seleksi. Saya justru diterima di jurusan lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya, Pendidikan Agama Islam, UIN Malang. Dan, semakin besarlah derajat kemelencengan jalan passion saya. 

Semasa kuliah, saya sangat jarang menggambar. Hanya ketika rindu pada aktivitas itulah saya pun mengambil kertas dan pensil, membuat sketsa di sela-sela rutinitas saya. I know, I lost my self. Di akhir tahun kedua kuliah, saya mulai berkenalan dengan Corel Draw, salah satu software desain grafis yang biasanya digunakan untuk membuat logo, kartu nama, banner, dan sejenisnya. Dan tahukah apa yang terjadi? Saya mulai jatuh cinta dan semakin penasaran dengan dirinya (coreldraw, red). Saya pun sering menghabiskan waktu 'berkencan' bersamanya. Saya rela tidak tidur siang demi menghasilkan satu karya. Sejak saat itu, saya tak lagi menggambar menggunakan pensil, tetapi menggantinya dengan mouse. Bersamanya saya kembali menemukan diri saya yang sempat ‘hilang’. Bersamanya saya menghasilkan banyak karya yang bisa dibilang cukup bermanfaat.

Di tahun ketiga, desain saya mulai dikenal banyak orang. Beberapa diantaranya ada yang menyukainya dan meminta saya untuk membuatkan. Dengan senang hati, saya pun mengiyakan. Saya tak butuh kompensasi apapun untuk itu. Seulas senyum dan ucapan terima kasih saja sudah sangat cukup. Di bulan-bulan berikutnya, desain saya sudah banyak dipakai oleh salah satu organisasi kampus. Dalam seminggu saya bisa mendapatkan 2 hingga 4 pesanan desain. Saya melistnya dengan rapi, dan menyelesaikannya sesuai dengan deadline yang disepakati. Saya mengerjakannya sepenuh hati, tanpa tendensi dan kompensasi.

Di pertengahan tahun 2012, saya melangkahkan kaki ke kota yang berbeda. Menempuh pendidikan pascasarjana dengan program studi yang saya yakini sebagai passion saya, Teknologi Pendidikan. Tentunya setelah berdebat panjang dan lebar dengan orang tua saya. Satu semester berjalan, ternyata prodi ini tak begitu mampu menyegarkan dahaga saya terhadap dunia desain. Di tingkatan pascasarjana kami tak mengkaji proses pembuatan media, yang justru saya ingin lakukan. Step itu sudah dikaji pada tingkatan S1. Saya menghela napas. Yah, tak apalah. Setidaknya saya cukup bahagia dengan salah satu matkul Produksi Media Pembelajaran di semester ketiga.

Dan kini, kebahagiaan itu harus saya bagi lagi dengan sebuah pekerjaan yang menyibukkan. Pengerjaan tugas akhir saya jadi tersendat. Saya semakin jengkel ketika tak mampu menyelesaikan studi saya tepat waktu. Saya menyalahkan pekerjaan baru yang menyita sebagian besar waktu saya tersebut. Lalu mengapa tidak ditinggalkan saja? mungkin anda berpikir demikian. Saya sudah memikirkannya ribuan kali, tetapi lagi-lagi saya mengurungkannya karena sebuah ketidakberanian. Saya belum siap melihat wajah kecewa orang tua saya ketika mengambil langkah itu. Saya tidak pernah melihat mereka sebahagia ketika saya berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut. Saya sekolah, kuliah, mendapatkan juara apapun, tidak pernah mereka sebegitu bahagianya.

Saya tahu, saya tengah mengorbankan passion saya sendiri. Tapi suatu saat nanti saya tidak akan kehilangan diri saya lagi.


26102014 0:46 WIB
Banyak yang saya sesali, tapi saya pun berterima kasih. Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua berjalan sesuai garis yang telah Engkau tentukan. Sejauh apapun saya mencari, tetap Engkau lah tujuan akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar