Saya
sudah berjalan sejauh ini. Di setapak jalan yang berbeda nol koma sekian
derajat dari yang sebelumnya saya inginkan. Semakin saya melangkah, maka besaran
derajat itu semakin besar dan semakin menjauhkan saya dari tujuan sebelumnya
Menggambar, salah satu hal yang sangat
saya suka. Saya masih ingat hasil gambar pertama yang mampu meyakinkan saya bahwa
diri saya berbakat. Ketika itu saya masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Iseng-iseng
saya menggambar karakter kartun Winnie The Pooh yang terdapat pada tas
kotak-kotak yang biasa saya gunakan untuk tempat mukena. Dan hasilnya, mengagumkan. Baru kali itu
saya mencoba membuat gambar berbeda. Sebelumnya, buku gambar saya hanya
berisi sketsa dua gunung dengan jalan tengah yang membelah areal persawahan. Saya sendiri bahkan tak menyangka jika saya bisa menggambar dengan sedemikian bagusnya. Sejak saat
itulah saya mulai percaya diri dengan bakat saya yang satu ini.
Ketika SMP, saya semakin sering
mengikuti perlombaan menggambar. Jika ada kesempatan, langsung saya sikat. Saya
tidak peduli akan menang atau kalah, yang penting saya ikut. Pengalaman adalah
hal yang paling saya cari ketika itu. Dari lima kompetisi yang pernah saya
ikuti selama SMP, hanya dua kali saja yang bisa saya menangkan. Itu pun hanya setingkat
kecamatan. Saya masih ingat, waktu itu saya mengikuti lomba menggambar dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia. Saya menggambar sekelompok anak yang
tengah merayakan 17 Agustus-an, ada yang berlomba balap karung, balap kelereng,
dan panjat pinang. Saya hanya mewarnainya dengan pensil warna yang tak begitu
terang. Tapi entah, bagaimana ceritanya gambar itu bisa keluar sebagai
pemenang. Terlepas dari semua itu, saya sangat bahagia. Saya pun masih ingat
ketika prosesi penganugerahan juaranya. Saya diminta untuk menghadiri acara yang
digelar pada malam hari di kantor kecamatan. Ayah mengantar saya dengan
sepeda motor. Saya lalu duduk di deretan kursi dengan satu wajah guru yang
kenal. Tak berapa lama kemudian, nama saya dipanggil dan piala itu pun berada digenggaman
saya. That’s my first trophy.
![]() |
| manga |
Di kelas 2 SMP saya mulai berkenalan dengan manga, kartun khas jepang. Saya mulai gemar membaca dan
menggambar karakter manga. Seiring dengan itu saya pun rutin membeli
komik jepang dari uang saku yang saya sisihkan. Saya membelinya tanpa
sepengetahuan orang tua saya. Mengapa harus sembunyi-sembunyi? Karena mereka mengancam
tidak akan memberi saya uang saku jika ketahuan membeli komik. Maklum, waktu
itu harga komik per jilidnya berkisar antara 10 hingga 13 ribu rupiah. Cukup mahal
untuk ukuran anak SMP. Tetapi hingga komik saya terkumpul 33 jilid pun, mereka
tidak mengetahuinya. Hihihihi...
Saat SMA, hobi menggambar saya
semakin menggila. Setiap kali bosan mendengarkan guru mengajar, saya seringkali
mengalihkannya pada kegiatan menggambar. Saya juga bergabung dalam ekstrakurikuler melukis di sekolah. Berharap grup
tersebut dapat semakin mengasah kemampuan saya. Saya diajari menggambar
perspektif dengan beberapa sudut pandang. Saya juga diajari membuat sketsa
wajah menggunakan skala, juga diajari melukis di atas kanvas. Meskipun hasilnya
tak seberapa bagus, tetapi saya menikmati setiap prosesnya dengan hati
berbunga-bunga. Penghargaan dari lomba-lomba yang saya ikuti selama SMA semakin
banyak. Saya pun direkrut menjadi tim ilustrator majalah sekolah. Di tahun kedua
saya dikirimkan menjadi layouter dalam kompetisi Radar Teen yang digelar
Radar Bromo, Jawa Pos Group.
Di akhir tahun ketiga SMA saya
mulai melirik beberapa nama perguruan tinggi yang memiliki jurusan seni rupa. Saya bermaksud untuk melanjutkan studi pada jurusan tersebut. Setelah menimbang-nimbang, saya
pun menentukan satu nama, Universitas Negeri Malang. Angan-angan saya sudah melambung ke Kota Dingin tersebut, memuaskan passion
yang telah saya temukan sejak SD ini. Tetapi, langkah kaki saya ke tempat itu terhenti karena sebuah alasan.
“Mau jadi apa kamu ambil seni
rupa? Seniman itu nggak punya masa depan,” ujar orang tua menyiutkan
nyali saya. Saya yang tak mengerti akan definisi ‘masa depan’ hanya diam saja.
“Lebih baik kamu ambil Pendidikan
Biologi atau apalah, kan sesuai tuh sama jurusanmu sekarang,” tambahnya.
Ya,
saya memang tengah belajar di jurusan IPA. Tetapi saya sama sekali tak
mendapatkan kesenangan seperti yang saya rasakan ketika menggambar. Saya tak
suka matematika atau pun fisika yang seharusnya saya mahir di dalamnya. Saya hanya
terpikat pada kontekstualitas yang disajikan Biologi. Ketika itu saya tak cukup berani
untuk menentukan pilihan saya. Saya tak berani menawar keinginan orang tua saya. Akhirnya, formulir pendaftaran SNMPTN itu saya isi dengan jurusan
Pendidikan Biologi dan Kimia di universitas yang sama, UM. Singkat cerita, saya
tidak lolos seleksi. Saya justru diterima di jurusan lain yang tidak pernah
saya duga sebelumnya, Pendidikan Agama Islam, UIN Malang. Dan, semakin besarlah
derajat kemelencengan jalan passion saya.
Semasa kuliah, saya sangat
jarang menggambar. Hanya ketika rindu pada aktivitas itulah saya pun mengambil
kertas dan pensil, membuat sketsa di sela-sela rutinitas saya. I know, I lost
my self. Di akhir tahun kedua kuliah, saya
mulai berkenalan dengan Corel Draw, salah satu software desain grafis yang
biasanya digunakan untuk membuat logo, kartu nama, banner, dan sejenisnya. Dan tahukah
apa yang terjadi? Saya mulai jatuh cinta dan semakin penasaran dengan dirinya (coreldraw,
red). Saya pun sering menghabiskan waktu 'berkencan' bersamanya. Saya rela tidak
tidur siang demi menghasilkan satu karya. Sejak saat itu, saya tak lagi
menggambar menggunakan pensil, tetapi menggantinya dengan mouse. Bersamanya saya
kembali menemukan diri saya yang sempat ‘hilang’. Bersamanya saya menghasilkan
banyak karya yang bisa dibilang cukup bermanfaat.
Di tahun ketiga, desain saya
mulai dikenal banyak orang. Beberapa diantaranya ada yang menyukainya dan
meminta saya untuk membuatkan. Dengan senang hati, saya pun mengiyakan. Saya
tak butuh kompensasi apapun untuk itu. Seulas senyum dan ucapan terima kasih saja
sudah sangat cukup. Di bulan-bulan berikutnya, desain saya sudah banyak dipakai
oleh salah satu organisasi kampus. Dalam seminggu saya bisa mendapatkan 2 hingga 4 pesanan
desain. Saya melistnya dengan rapi, dan menyelesaikannya sesuai dengan deadline
yang disepakati. Saya mengerjakannya sepenuh hati, tanpa tendensi dan kompensasi.
Di pertengahan tahun 2012, saya melangkahkan
kaki ke kota yang berbeda. Menempuh pendidikan pascasarjana dengan program
studi yang saya yakini sebagai passion saya, Teknologi Pendidikan. Tentunya
setelah berdebat panjang dan lebar dengan orang tua saya. Satu semester
berjalan, ternyata prodi ini tak begitu mampu menyegarkan dahaga saya terhadap dunia
desain. Di tingkatan pascasarjana kami tak mengkaji proses pembuatan media,
yang justru saya ingin lakukan. Step itu sudah dikaji pada tingkatan S1.
Saya menghela napas. Yah, tak apalah. Setidaknya saya cukup bahagia dengan
salah satu matkul Produksi Media Pembelajaran di semester ketiga.
Dan kini, kebahagiaan itu harus
saya bagi lagi dengan sebuah pekerjaan yang menyibukkan. Pengerjaan tugas akhir
saya jadi tersendat. Saya semakin jengkel ketika tak mampu menyelesaikan studi
saya tepat waktu. Saya menyalahkan pekerjaan baru yang menyita sebagian besar
waktu saya tersebut. Lalu mengapa tidak ditinggalkan saja? mungkin anda berpikir demikian. Saya sudah memikirkannya
ribuan kali, tetapi lagi-lagi saya mengurungkannya karena sebuah
ketidakberanian. Saya belum siap melihat wajah kecewa orang tua saya ketika
mengambil langkah itu. Saya tidak pernah melihat mereka sebahagia ketika saya berhasil
mendapatkan pekerjaan tersebut. Saya sekolah, kuliah, mendapatkan juara apapun,
tidak pernah mereka sebegitu bahagianya.
Saya tahu, saya tengah
mengorbankan passion saya sendiri. Tapi suatu saat nanti saya tidak akan
kehilangan diri saya lagi.
26102014 0:46 WIB
Banyak yang saya sesali, tapi saya pun berterima kasih. Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua berjalan sesuai garis yang telah Engkau tentukan. Sejauh apapun saya mencari, tetap Engkau lah tujuan akhirnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar