Di deretan kursi shaf pertama...
Di kiri saya duduk empat orang perempuan yang baru saja saya jumpai
hari ini. Di kanan saya masih ada satu kursi kosong yang tak diminati.
“Permisi, saya boleh duduk di sini, Mbak?” tanyamu, menunjuk kursi
kosong di sebelah saya ketika itu.
“Oh, silahkan,” jawab saya tanpa pikir panjang.
Beberapa menit setelah itu tak ada percakapan di antara kita. Saya hanya
mendengar gelak tawamu di sela-sela suara sekretaris daerah yang tengah
memberikan pengarahan itu.
”Mbak dari mana?” tanyamu setelah berpuluh menit kemudian.
“Saya dari kabupaten, Mas”
“Hmm...berapa menit jarak tempuhnya dari sini?” tanyanya lagi.
“Yaa...sekitar 45 menitan, lah,”
“Ooo....sama dong, saya juga 45 menitan dari rumah,”
“Oya?” tanya saya, singkat.
“He’em...tapi bedanya, saya dari barat dan pean dari timur,”
jelasmu, tersenyum.
Sejurus kemudian, kita lalu tersenyum bersamaan. Detik selanjutnya
kembali hening, tak ada percakapan lagi. Kita pun kembali fokus pada perhatian
awal.
Bagi saya ketika itu kamu tak lebih dari seorang pemain figuran yang
sekedar numpang lewat dalam salah satu scene hidup saya. Tak lebih
dari seorang teman bicara di sebuah forum baru dengan orang-orang yang
sama-sama berstatus ‘baru’. Saya pun tak ingin banyak berbasa-basi denganmu.
Tapi entah, ada reaksi yang berbeda dengan ruhani saya. Serasa bertemu dengan
teman lama yang telah dikenal bertahun-tahun. Begitu nyaman....
Saya meyakininya, itu
sebuah kode rahasia dari-Nya...
first page on our storybook

Tidak ada komentar:
Posting Komentar