Di minggu siang yang panas, kami berniat
meninggalkan Kota Pendidikan plus Kota Wisata Yogyakarta. Kami berdua berangkat
menuju Stasiun Tugu dengan bus Trans Jogja yang full AC plus full
passengers. Gak kebagian tempat duduk, jadi terpaksa berdiri, deh.
Sebelum pulang, kami berniat untuk mengunjungi
Nenek kami di Solo (meski hanya saudara seiman, tidak sekandung, kami memiliki
nenek yang sama loh). Maklum, lama tak bertemu membuat kami rindu dengan nenek
kami yang akhir-akhir ini tengah berjibaku dengan tesisnya. (Klik DI SINI untuk
mengetahui siapa nenek kami yang sebenarnya). Sudah di klik? Bagus..! Sudah
tahu, belum? Nenek masih cantik, kan? Hehehe..
Ok, back to story.
Kami berangkat ke Solo dengan kereta Sri Wedari, dan turun di Stasiun Balapan
(stasiunnya Bang Didi kempot). Hanya dalam waktu satu setengah jam, kami tiba dengan
di sana, utuh dan tidak cuil sedikit pun.
“Kalau udah sampai di stasiun, kamu terus naik
bus ya, namanya Atmo,” teman saya membaca lirih pesan singkat dari nenek. “Kita
kudu naik bus Atmo, nih,” ujar teman saya. “Ke arah mana?” tanya saya yang sudah
jelas akan mendapat jawaban ‘tidak tahu’. Kami pun memutuskan untuk bertanya
pada bapak Satpam di samping pintu gerbang. Belum selesai mendengar jawaban
dari si bapak, seonggok bus Atmo tiba-tiba melenggang dan parkir dengan santai
di depan kami. “Ok, makasih, Paaaaak..” teman saya mengucapkan terima kasih dengan
tidak sopan (sambil berlari, red). Kami lalu bergegas naik ke dalam bus, duduk,
lalu tertawa lepas. Tertawa yang tidak jelas penyebabnya. Mungkin karena
menertawakan diri sendiri yang senekat ini, atau mungkin karena perasaan lega karena
telah menemukan Bang Atmo. Hehe..
Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan lalu
lintas di kota ini. Tertib dan teratur, sama seperti yang dipromosikan oleh Mantan
Walikotanya, Jokowi. Agak tidak percaya, saat ini saya tengah berada di kota
yang baru saja ditinggalkan oleh Gubernur Jakarta tersebut. Amazing..cerita
mbolang saya benar-benar amazing. Beberapa manit kemudian, kami
pun turun di tempat yan rekomendasikan, yaitu di Universitas Sebelas Maret Solo (kampusnya
nenek). Sesampainya disana, kami di jemput dan diboyong ke tempat kosnya. Huwaahh..jadinya
reuni, deh. Maklum, saya, teman saya, dan nenek sempat tergabung dalam
organisasi yang sama ketika di S1 dulu. Kami bertukar kabar, lalu bertukar jiwa
(loh?). hehehe.. Kami disambut baik di sana, nenek memberikan segala fasilitas
secara free pada kami. Terima kasih, ya, nek. Huhuhu... #terharu. Doa
saya, semoga nenek makin sehat.
Keraton Kasunanan Surakarta
Esok paginya, kami bertiga mengunjungi Keraton
Kasunanan Surakarta. Tempat itu, bbeeehhh... masuk di sana berasa ada di
jaman kerajaan, bro-sist. Bangunan kunonya eksotis, saking kurang
terawat, coba di cat lagi tembok2 kusamnya, pasti cantik. Di sana juga banyak benda-benda
bersejarah, mulai dari alat musik, alat perang, alat masak, kendaraan sultan,
dan sebagainya. Cocok beudh nih buat belajar sejarah pake metode
karyawisata. Siswa dijamin gak ngantuk.
![]() |
| Keraton Surakarta tampak depan |
![]() |
| di Keraton Surakarta |
Saya terkesima dengan tempat yang satu ini. Pikiran
saya melayang pada potret kehidupan di dalam keraton berpuluh-puluh tahun yang
lalu. Mungkin mirip dengan suasana yang digambarkan dalam film Angling Dharma
yang pernah saya tonton di salah satu stasiun televisi. Saya tergolong orang
yang kurang tertarik pada hal-hal berbau sejarah macam ini. Ketika jaman
sekolah dulu, saya malas mendengarkan guru bercerita tentang peristiwa masa
lampau. Paling juga bermula dari kerajaan kecil, lalu berkembang, kemudian
runtuh karena ekspansi atau perang saudara, begitu pikir saya ketika itu.
Jadilah, saya miskin pengetahuan sejarah hingga saat ini. Hiks..
Puas berkeliling, kami lalu membeli sedikit snack
di Pasar Klewer dan shalat dhuhur di Masjid Agung Surakarta, lalu pulang..
Itulah beberapa poin-poin cerita tentang backpacking
saya ke Yogyakarta dan Solo. Perjalanan yang begitu berkesan untuk ukuran orang
yang jarang travelling ke luar propinsi seperti saya
-The End-


.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar