Kamis, 13 Desember 2012

Sweet Backpacker Part 4-Menuju Kota Solo



Di minggu siang yang panas, kami berniat meninggalkan Kota Pendidikan plus Kota Wisata Yogyakarta. Kami berdua berangkat menuju Stasiun Tugu dengan bus Trans Jogja yang full AC plus full passengers. Gak kebagian tempat duduk, jadi terpaksa berdiri, deh. 
Sebelum pulang, kami berniat untuk mengunjungi Nenek kami di Solo (meski hanya saudara seiman, tidak sekandung, kami memiliki nenek yang sama loh). Maklum, lama tak bertemu membuat kami rindu dengan nenek kami yang akhir-akhir ini tengah berjibaku dengan tesisnya. (Klik DI SINI untuk mengetahui siapa nenek kami yang sebenarnya). Sudah di klik? Bagus..! Sudah tahu, belum? Nenek masih cantik, kan? Hehehe..

Ok, back to story. Kami berangkat ke Solo dengan kereta Sri Wedari, dan turun di Stasiun Balapan (stasiunnya Bang Didi kempot). Hanya dalam waktu satu setengah jam, kami tiba dengan di sana, utuh dan tidak cuil sedikit pun.
“Kalau udah sampai di stasiun, kamu terus naik bus ya, namanya Atmo,” teman saya membaca lirih pesan singkat dari nenek. “Kita kudu naik bus Atmo, nih,” ujar teman saya. “Ke arah mana?” tanya saya yang sudah jelas akan mendapat jawaban ‘tidak tahu’. Kami pun memutuskan untuk bertanya pada bapak Satpam di samping pintu gerbang. Belum selesai mendengar jawaban dari si bapak, seonggok bus Atmo tiba-tiba melenggang dan parkir dengan santai di depan kami. “Ok, makasih, Paaaaak..” teman saya mengucapkan terima kasih dengan tidak sopan (sambil berlari, red). Kami lalu bergegas naik ke dalam bus, duduk, lalu tertawa lepas. Tertawa yang tidak jelas penyebabnya. Mungkin karena menertawakan diri sendiri yang senekat ini, atau mungkin karena perasaan lega karena telah menemukan Bang Atmo. Hehe..

Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan lalu lintas di kota ini. Tertib dan teratur, sama seperti yang dipromosikan oleh Mantan Walikotanya, Jokowi. Agak tidak percaya, saat ini saya tengah berada di kota yang baru saja ditinggalkan oleh Gubernur Jakarta tersebut. Amazing..cerita mbolang saya benar-benar amazing. Beberapa manit kemudian, kami pun turun di tempat yan rekomendasikan, yaitu di  Universitas Sebelas Maret Solo (kampusnya nenek). Sesampainya disana, kami di jemput dan diboyong ke tempat kosnya. Huwaahh..jadinya reuni, deh. Maklum, saya, teman saya, dan nenek sempat tergabung dalam organisasi yang sama ketika di S1 dulu. Kami bertukar kabar, lalu bertukar jiwa (loh?). hehehe.. Kami disambut baik di sana, nenek memberikan segala fasilitas secara free pada kami. Terima kasih, ya, nek. Huhuhu... #terharu. Doa saya, semoga nenek makin sehat.

Keraton Kasunanan Surakarta
Esok paginya, kami bertiga mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta. Tempat itu, bbeeehhh... masuk di sana berasa ada di jaman kerajaan, bro-sist. Bangunan kunonya eksotis, saking kurang terawat, coba di cat lagi tembok2 kusamnya, pasti cantik. Di sana juga banyak benda-benda bersejarah, mulai dari alat musik, alat perang, alat masak, kendaraan sultan, dan sebagainya. Cocok beudh nih buat belajar sejarah pake metode karyawisata. Siswa dijamin gak ngantuk. 
Keraton Surakarta tampak depan

di Keraton Surakarta
Saya terkesima dengan tempat yang satu ini. Pikiran saya melayang pada potret kehidupan di dalam keraton berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mungkin mirip dengan suasana yang digambarkan dalam film Angling Dharma yang pernah saya tonton di salah satu stasiun televisi. Saya tergolong orang yang kurang tertarik pada hal-hal berbau sejarah macam ini. Ketika jaman sekolah dulu, saya malas mendengarkan guru bercerita tentang peristiwa masa lampau. Paling juga bermula dari kerajaan kecil, lalu berkembang, kemudian runtuh karena ekspansi atau perang saudara, begitu pikir saya ketika itu. Jadilah, saya miskin pengetahuan sejarah hingga saat ini. Hiks.. 

Puas berkeliling, kami lalu membeli sedikit snack di Pasar Klewer dan shalat dhuhur di Masjid Agung Surakarta, lalu pulang..

Itulah beberapa poin-poin cerita tentang backpacking saya ke Yogyakarta dan Solo. Perjalanan yang begitu berkesan untuk ukuran orang yang jarang travelling ke luar propinsi seperti saya

-The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar