Sedih. Bilamana membayangkan pasi rautmu yang
tergolek lemah di pembaringan. Berminyak, tak bergairah. Sama kusutnya dengan seprai
dibawah tubuh kurusmu itu. Obat bulat lonjong pipih bertudung kapsul sedang
menunggui waktu untuk menurunkan derajat tubuhmu.
Tiba-tiba saja duniamu berubah menjadi kotak
berukuran 4x3m. Lengkap dengan meja kecil dan jam dinding yang amat terasa
detakannya. Matahari pun turut bergulir lamban. Pagi enggan berganti siang.
Siang malas bertemu malam. Satu hari pun serasa lebih dari 24 jam. Bosan, yang mungkin
kau rasakan.
Di saat seperti ini kau akan melihat Ayah yang rajin
menemui apoteker di seberang jalan sana. Ibu yang sibuk memasak bubur di dapur.
Dan kakak yang memeras-merasi handuk lalu meletakkannya di dahi hangatmu. Mengingatkanmu
bahwa sudah saatnya minum obat. Sungguh, bagi mereka tidak ada yang lebih
membahagiakan selain melihatmu pulih kembali.
Tetaplah bersabar atas sakit ini. Ada dosa yang akan
terlebur bilamana kau tidak meratap dan mengeluh. Bersyukurlah... Bahwasanya ada
sakit yang lebih menyeri di luar sana. Yang mungkin tidak tersembuhkan atau
terlambat untuk disembuhkan.
Jika saja spasi tak terlampau jauh seperti ini,
aku ingin sekali menemanimu. Merasakan separuh sakit di setiap senti kulit dan
hatimu. Tapi sekali lagi aku tidak mampu. Hanya pesan yang dapat kutitip pada
udara, sekedar mengetahui bahwa kau tengah berjuang di sana. Bersabar dan
bersyukur..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar