Selasa, 28 Agustus 2012

Sakit


Sedih. Bilamana membayangkan pasi rautmu yang tergolek lemah di pembaringan. Berminyak, tak bergairah. Sama kusutnya dengan seprai dibawah tubuh kurusmu itu. Obat bulat lonjong pipih bertudung kapsul sedang menunggui waktu untuk menurunkan derajat tubuhmu. 

Tiba-tiba saja duniamu berubah menjadi kotak berukuran 4x3m. Lengkap dengan meja kecil dan jam dinding yang amat terasa detakannya. Matahari pun turut bergulir lamban. Pagi enggan berganti siang. Siang malas bertemu malam. Satu hari pun serasa lebih dari 24 jam. Bosan, yang mungkin kau rasakan.

Di saat seperti ini kau akan melihat Ayah yang rajin menemui apoteker di seberang jalan sana. Ibu yang sibuk memasak bubur di dapur. Dan kakak yang memeras-merasi handuk lalu meletakkannya di dahi hangatmu. Mengingatkanmu bahwa sudah saatnya minum obat. Sungguh, bagi mereka tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihatmu pulih kembali. 

Tetaplah bersabar atas sakit ini. Ada dosa yang akan terlebur bilamana kau tidak meratap dan mengeluh. Bersyukurlah... Bahwasanya ada sakit yang lebih menyeri di luar sana. Yang mungkin tidak tersembuhkan atau terlambat untuk disembuhkan.

Jika saja spasi tak terlampau jauh seperti ini, aku ingin sekali menemanimu. Merasakan separuh sakit di setiap senti kulit dan hatimu. Tapi sekali lagi aku tidak mampu. Hanya pesan yang dapat kutitip pada udara, sekedar mengetahui bahwa kau tengah berjuang di sana. Bersabar dan bersyukur..

21 Agustus 2012 21:47 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar