Seberapa istimewa aku bagimu, saudariku?
Pertanyaan itu sering menggelayut di pikirku. Mendesakku untuk mencari jawabnya sesegera mungkin. Lalu, tak lama berselang, kutepis kembali. Untuk apa? Bukankah seharusnya tidak berharap lebih? Apakah menuntut rasa sayang itu terbalas? Jika ternyata, pada akhirnya aku mengetahui bahwa hanya diriku yang berada di ruang ini, sendiri, juga tak mengapa... Akan ku habiskan perasaan ini hingga mati rasa. Setelah segalanya tak bersisa, mungkin aku bisa pergi meninggalkan segalanya.
Sayangnya, aku lah yang terlalu peduli. Padamu, juga hatimu. Merasakan bahagia, dan sakit yang sama dengan yg kau rasa. Tanpa memikirkan sepeduli apa engkau padaku. Namamu hidup dalam rapal doa yang kupanjatkan pada Rabb-Ku. Kumohonkan segala yang terbaik untukmu, juga keluargamu. Kau, mengapa jadi seistimewa ini? Aku juga tidak mengerti...
Kau begitu pemikir dan perasa, menurutku... Sangat mudah memikirkan setiap ucapan orang lain yang terkadang terlontar begitu saja. Rasamu juga mudah terbawa oleh kata indah dan mendayu-dayu? Ya, kan? Katakan padaku jika aku salah.
Tapi sejatinya....sifatmu baik, saudariku. Memandang semua orang di sekelilingmu itu baik. Husnudzan, namanya... Tapi berhati-hatilah, prasangka baikmu juga bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat tidak baik. Seperti peristiwa yang telah berlalu kala itu.
Sekali-kali jadilah sepertiku, yang tidak mudah peduli pada ocehan orang lain. Sekali-kali abaikan yang tak penting, jangan semuanya kau masukkan ke dalam hati.
Jadilah wanita yang tegar seperti karang, mampu melawan debur ombak yang menerjang. Jadilah wanita yang mampu menjaga hati, tak mudah hanyut oleh rasa yang tak pasti.
Allah selalu ada dan takkan kemana. Dialah tempat mengadu asa. Jika kau butuh peran manusia, aku masih berada di tempat yang sama. Masih sangat bersedia, mendengarmu...
26112023 21:46 wib
%20(6).jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar