Saya masih mengingatnya, 19 tahun yang lalu, ketika kamu baru saja dinyatakan terlahir sebagai manusia. Tahukah? saya senang bukan main. Melompat ke sana ke mari, mngatakan pada orang-orang di sekitar saya bahwa saya memiliki seorang adik. Ya, adik. Dan itu, kamu...
Sejak hari itu saya mulai belajar untuk berbagi. Di usia saya yang belum genap lima tahun itu saya mulai belajar untuk tidak bergantung pada ibu. Tidur sudah tidak lagi ditemani. Ketika akan berangkat ke Taman Kanak-kanak pun saya menyisir rambut dan memakai pakaian sendiri. Sampai suatu ketika saya merasa rindu pada ibu yang ketika itu sudah lebih sering bersamamu. Malam itu saya tidak bisa tidur dan terus menerus menangis. Paginya, saya melihat wajah tenang ibu dihadapan saya, dan kamu tidur bersama ayah.
Saya juga masih ingat, waktu itu kita habis bermain di halaman rumah nenek. Pulangnya saya mencoba menggendongmu sampai ke rumah. Bodohnya, saya tidak mempertimbangkan akibat yang terjadi akan ketidakseimbangan kita. Saya kurus, dan kamu begitu gendut. Di langkah yang hanya berjarak 2 meter dari pagar rumah, keseimbangan saya goyah dan kita berdua pun terjatuh. Waktu itu banyak pasir di mulut saya. Ckckck... Saya pernah memukul anak yang mengejekmu. Menangis ketika lengan kirimu patah. Bermain rumah-rumahan, tikus-tikusan, dan bersepeda bersamamu. Ah..betapa.
Masa-masa selanjutnya tidak cukup menyenangkan, saya sering bertengkar denganmu, mencubit, mengataimu 'bodoh', dan sebagainya. Selanjutnya, bahkan sampai hari ini kita seperti orang asing. Saya tidak terbuka padamu, kamu pun juga demikian. Saya lebih nyaman bercerita kepada teman-teman saya dari pada denganmu. Kamu pun sepertinya juga demikian.
Kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Saya dididik dengan cara diktator, sedang kamu tidak. Saya sering dimarahi karena tidak disiplin belajar, sedang kamu tidak. Saya pernah dihukum karena peringkat saya turun, sedang kamu tidak. Ketika itu saya merasa bahwa ayah ibu lebih menyayangimu dari pada saya. Namun, selanjutnya saya mulai memahami bahwa kita memang berbeda, karena itulah ayah dan ibu juga memperlakukan kita dengan cara yang tak sama.
Saya 19 tahun dan kamu 14 tahun. Kita mulai jarang bertemu semenjak saya memutuskan untuk belajar di kota lain. Betapa banyak harta karun yang saya temukan di sana. Kisah-kisah persahabatan yang semakin membuat saya lupa padamu, saudara saya sendiri. Saya jarang menanyakan kabarmu, bahkan untuk sekedar mengirimimu pesan basa-basi. Saya terlalu sibuk dengan diri sendiri. Ketika saya pulang ke rumah pun, kamu menjadi makhluk tercuek dengan kehadiran saya yang dianggap istimewa oleh ayah dan ibu. Saya menyadarinya, sekat di antara kita terlalu tebal.
Saya semakin gila dengan dunia akademik dan organisasi. Saya sibuk merajut mimpi-mimpi masa depan saya. Dan keputusan paling kontroversial saya adalah melanjutkan studi ke jenjang S2. Kamu tengah duduk di kelas XII ketika saya baru menjalani satu semester program magister. Saya senang bercampur khawatir ketika kamu mengatakan akan mengikuti program seleksi nasional penerimaan mahasiswa tahun itu. Saya khawatir fisikmu tak cukup kuat untuk 'sekedar menjadi seorang mahasiswa'. Kekhawatiran itu akhirnya terjawab, kamu tak lolos seleksi. Saya sedih, tetapi juga lega. Setidaknya saya tidak terlalu khawatir thypus mu kambuh karena dateline tugas kuliah.
Selanjutnya orang-orang di luar sana mulai sibuk menilai kita berdua. Katanya, saya pintar kamu tidak, saya ramah kamu cuek, saya rajin kamu malas, saya memiliki masa depan cerah sedang kamu tidak. Begitulah, di mata mereka saya adalah atom proton yang bermuatan positif, sedangkan kamu neutron yang negatif. Mereka mendikotomikan kita menjadi dua kutub yang berlawanan. Sampai pada akhirnya, kamu menjadi sangat cemburu pada saya. Kamu jadi beranggapan bahwa ayah dan ibu lebih memperhatikan saya, lebih banyak memenuhi kebutuhan-kebutuhan saya. Saya menangis ketika tahu kamu menuntut mereka untuk memberikan nominal yang sama dengan yang telah mereka habiskan untuk mimpi-mimpi saya. Tetapi itu sangatlah wajar, jika berada di posisimu saya mungkin juga akan merasa demikian. Atau bisa jadi lebih buruk.
Kamu menjadi makhluk terdingin di keluarga hangat kita. Seseorang dengan kepribadian paling sulit ditebak. Ada sesal di dalam hati saya ketika tidak mampu menyentuh hatimu. Ada perasaan tak pantas jika saya begitu akrab pada teman, sedangkan tidak padamu. Tahukah? saya ingin menjadi pundakmu ketika kamu sedang sedih, menggenggam tanganmu ketika kamu takut, dan berbagi tawa dalam candaan yang sama. Di detik yang sama, saya menyadari, saya belum mampu melakukannya.
Saya 24 tahun dan kamu 19 tahun. Kita sudah baik-baik saja. Kamu sedikit bisa bercerita tentang hari-harimu. Meski itu belum sepenuhnya. Tahun ini kamu resmi terikat dengannya, anak laki-laki di foto itu. Saya harap dia bisa menjagamu. Menggantikan peran saya yang sejak awal gagal menjadi kakak yang baik.
5 Januari 2014 01:42 WIB
*cry


Tidak ada komentar:
Posting Komentar