Rabu, 07 Januari 2015

Equilibrium

Tak banyak yang saya ketahui tentang hidup. Dua puluh empat tahun menapaki hari-harinya tidak membuat saya serta merta menjadi orang bijak yang paham lebih banyak. Banyak ironi yang terkadang semakin membuat saya tidak mengerti. Harapan yang dihancurkan, pengorbanan yang dipaksakan, sedih yang berlarut-larut. Saya tidak mengerti mengapa hidup memilih seseorang untuk merasakan bahagia sedangkan seseorang lainnya merasa sedih. Mengapa keduanya tidak sama-sama bahagia saja? bukankah dunia nantinya akan menjadi lebih indah?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepala saya. Sampai pada akhirnya saya bersepakat dengan teori equilibrium yang menyatakan bahwasanya kedua sisi plus minus itu 'harus ada'. Semacam gula yang akan terasa membosankan jika tidak dicampur dengan bubuk kopi. 

Keseimbangan adalah sebuah keniscayaan. Baik dan buruk, keduanya hidup harmonis dalam satu kehidupan bernama manusia. Disadari atau tidak, kedua sisi yang saling bertolak belakang itu hidup dan saling menyeimbangkan. Tak ada orang baik yang tidak pernah berbuat buruk. Begitupula tak ada orang buruk yang tidak pernah berbuat baik. Mereka berganti-ganti menjadi motor dari tingkah laku manusia. Hanya saja, untuk menentukan diri ini baik atau buruk, lihat saja mayoritas motor penggerak tindakanmu. Dan kamu akan mendapatkan salah satu labelnya.

07012015 1:19 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar