Kamis, 11 Oktober 2012

Ceritaku di Surabaya #2



Seharian tadi saya ngadem di perpustakaan pascasarjana yang full AC. Selain mencari ‘masalah’ untuk bakal tesis, saya juga baca berita dan jurnal online di sana. Lumayan, wifi gratisnya lebih banter daripada di ma’had. Hehehe.. Sembari buka plus update facebook juga sih. Saking betahnya, saya sampai gak sadar kalau perpustakaannya mau tutup. Hihihi..

Sepulang dari sana, dan sesampainya di ma’had, saya bergegas menuju Lantai Tertinggi, teringat jemuran yang belum diangkat. Saya berjalan dengan santai sambil menyanyikan Separuh Aku-nya NOAH di dalam hati. Tapi tiba-tiba saja alunan lagu itu berhenti, digantikan oleh genderang keterkejutan. Drundung...drunduuuung..! Lho? Pakaian saya pada kemana ya? Saya mempercepat langkah menuju lokasi penjemuran. Lho? Kok gak ada? Lho..lho??!! Sejurus kemudian..DIIIIIIEEEEENNNGGG..!! Oh, My Allah..baju-baju saya terbang ke atap rumah oraaaaang (untung masih rumahnya orang, bukan rumah macan).


Haduh, saya bingung. Gimana ini? Itu baju kesayangan, masih baru lagi. Baru lebaran kemarin dibeli. Haduuuuh, masak saya kudu lompat ke atap rumah itu? Kalau jebol gimana? Wong atapnya dari seng.. Atau saya datengin aja rumah orangnya ya? Trus bilang, “Pak, maaf, baju saya nyangkut di atap rumah njenengan. Ambilin dong, Paaaak,” begitu pikir saya ketika itu.
Di tengah kekalutan yang melanda pikir, hati saya mengajak berdamai. Calm down, Ri.. Calm down... Dengan begitu setidaknya bisa membuat derajat kegalauan saya menurun. Huuuuufftt..saya lalu menghela nafas yang teramat panjang. Dan...TING..bola lampu menyala di atas kepala saya (ada ide). Saya raih besi panjang sisa material bangunan yang sudah agak mengarat tergeletak di sisi kanan saya. Lalu saya sambung dengan hanger yang ujungnya dibengkokkan. Saya ulurkan ke atap, dan HAPP...dapaaaat. Horee...kerudung dan kaos berhasil memakan umpan pancing saya. Hahaha..kayak lagi mancing aja nih ceritanya. Hmm..tinggal baju kotak-kotak oren tersayang nih yang masih bertengger manis di ujung utara atap itu. Saya kembali menjulurkan galah, ups, gak sampai sodara-sodara. Hiks.. Saya kembali memutar otak. Sekitar lima menit lamanya saya berkeliling Lantai Tertinggi, mencari barang-barang yang lebih panjang. Yeee...saya mendapatkannya, besi yang lebih panjang. Horeee...(bersorak untuk yang kedua kalinya)

Saya ulurkan kembali galah yang lebih panjang itu. Susah payah sampai keringat bercucuran dari dahi saya, sampai melunturkan bedak yang awalnya memang sudah pudar. Semangat saya begitu memuncak ketika itu. Rasa putus asa saya berada di titik nol, minus malah. Saya benar-benar tidak ingin kehilangan si Kotak-Kotak Oren. Proses memancing kedua ini memakan waktu lebih lama karena posisi ‘si terpancing’ yang sangat tidak strategis. Beberapa kali pengait tidak berhasil menyentuh ujung baju. Kaki saya gemetar, takut pada ketinggian. Sekitar lima menit kemudian, si Kotak-Kotak Oren akhirnya berhasil saya naikkan ke permukaan. Huhuhu...terharu.

Saya terduduk sembari mengipas-ngipas badan yang berkeringat. Lega, menyadari keberhasilan usaha saya di beberapa menit yang lalu. Saya lalu berpikir dan merenung. Ada pelajaran berharga yang terselip di kejadian kecil sore ini. Bahwasanya keberhasilan itu akan datang ketika kita benar-benar semangat berjuang dan tidak berputus asa. Saya mungkin akan kehilangan si Kotak-Kotak Oren jika saya memutuskan untuk berhenti berusaha. Membiarkan ia tetap bertengger di sana hingga kusam dicium matahari. Tetapi untungnya ketika itu saya masih memiliki semangat, asa, dan rasa percaya.

Thanks Allah, for today..

10 Oktober 2012 19:28 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar