Seharian
tadi saya ngadem di perpustakaan pascasarjana yang full AC. Selain
mencari ‘masalah’ untuk bakal tesis, saya juga baca berita dan jurnal online
di sana. Lumayan, wifi gratisnya lebih banter daripada di ma’had. Hehehe..
Sembari buka plus update facebook juga sih. Saking betahnya, saya
sampai gak sadar kalau perpustakaannya mau tutup. Hihihi..
Sepulang
dari sana, dan sesampainya di ma’had, saya bergegas menuju Lantai Tertinggi,
teringat jemuran yang belum diangkat. Saya berjalan dengan santai sambil
menyanyikan Separuh Aku-nya NOAH di dalam hati. Tapi tiba-tiba saja alunan lagu
itu berhenti, digantikan oleh genderang keterkejutan. Drundung...drunduuuung..!
Lho? Pakaian saya pada kemana ya? Saya mempercepat langkah menuju lokasi penjemuran.
Lho? Kok gak ada? Lho..lho??!! Sejurus kemudian..DIIIIIIEEEEENNNGGG..!!
Oh, My Allah..baju-baju saya terbang ke atap rumah oraaaaang (untung masih
rumahnya orang, bukan rumah macan).
Haduh,
saya bingung. Gimana ini? Itu baju kesayangan, masih baru lagi. Baru lebaran
kemarin dibeli. Haduuuuh, masak saya kudu lompat ke atap rumah itu?
Kalau jebol gimana? Wong atapnya dari seng.. Atau saya datengin
aja rumah orangnya ya? Trus bilang, “Pak, maaf, baju saya nyangkut di atap
rumah njenengan. Ambilin dong, Paaaak,” begitu pikir saya ketika itu.
Di
tengah kekalutan yang melanda pikir, hati saya mengajak berdamai. Calm down,
Ri.. Calm down... Dengan begitu setidaknya bisa membuat derajat
kegalauan saya menurun. Huuuuufftt..saya lalu menghela nafas yang teramat panjang.
Dan...TING..bola lampu menyala di atas kepala saya (ada ide). Saya raih besi
panjang sisa material bangunan yang sudah agak mengarat tergeletak di sisi
kanan saya. Lalu saya sambung dengan hanger yang ujungnya dibengkokkan.
Saya ulurkan ke atap, dan HAPP...dapaaaat. Horee...kerudung dan kaos berhasil
memakan umpan pancing saya. Hahaha..kayak lagi mancing aja nih ceritanya. Hmm..tinggal
baju kotak-kotak oren tersayang nih yang masih bertengger manis di ujung utara
atap itu. Saya kembali menjulurkan galah, ups, gak sampai
sodara-sodara. Hiks.. Saya kembali memutar otak. Sekitar lima menit lamanya saya
berkeliling Lantai Tertinggi, mencari barang-barang yang lebih panjang. Yeee...saya
mendapatkannya, besi yang lebih panjang. Horeee...(bersorak untuk yang kedua
kalinya)
Saya
ulurkan kembali galah yang lebih panjang itu. Susah payah sampai keringat
bercucuran dari dahi saya, sampai melunturkan bedak yang awalnya memang sudah
pudar. Semangat saya begitu memuncak ketika itu. Rasa putus asa saya berada di
titik nol, minus malah. Saya benar-benar tidak ingin kehilangan si Kotak-Kotak
Oren. Proses memancing kedua ini memakan waktu lebih lama karena posisi ‘si terpancing’
yang sangat tidak strategis. Beberapa kali pengait tidak berhasil menyentuh
ujung baju. Kaki saya gemetar, takut pada ketinggian. Sekitar lima menit
kemudian, si Kotak-Kotak Oren akhirnya berhasil saya naikkan ke permukaan. Huhuhu...terharu.
Saya
terduduk sembari mengipas-ngipas badan yang berkeringat. Lega, menyadari
keberhasilan usaha saya di beberapa menit yang lalu. Saya lalu berpikir dan
merenung. Ada pelajaran berharga yang terselip di kejadian kecil sore ini.
Bahwasanya keberhasilan itu akan datang ketika kita benar-benar semangat
berjuang dan tidak berputus asa. Saya mungkin akan kehilangan si Kotak-Kotak
Oren jika saya memutuskan untuk berhenti berusaha. Membiarkan ia tetap
bertengger di sana hingga kusam dicium matahari. Tetapi untungnya ketika itu saya
masih memiliki semangat, asa, dan rasa percaya.
Thanks Allah, for today..
Thanks Allah, for today..
10
Oktober 2012 19:28 wib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar