Ada saat dimana pandangan mata
ini tiba-tiba terpaku pada sosok tertentu. Memandangnya lamat-lamat di sudut
yang tidak diketahui.
Menunggu
Pagi itu adalah pagi seperti
biasanya. Lima belas menit sebelum bel berdering, aku sudah duduk manis di
depan ruang kelas. Mengamati sirkulasi kendaraan yang semakin memenuhi tempat
parkir. Mataku berkeliaran. Kiri, kanan, tak menentu. Ada yang tengah dicari
oleh hatiku. Dia. Dimana dia? Mengapa tak jua muncul? Sejak hari itu, aku
menunggunya di sini, setiap pagi. Dia yang tiba-tiba menjadi cerita yang tidak
habis terbahas dalam duniaku. Dia yang secara tidak sengaja menjatuhkan hatiku
untuk kali pertama. Dia yang selalu ingin kutemui sosoknya dimana pun berada.
Motor berplat W 4769 FK itu
akhirnya tampak juga. “Dia datang,” pekikku dalam hati. Sejurus, tidak ada yang
kuperhatikan selain sosoknya. Mataku terpaku, lama. Ada yang mendetak lebih
kencang, di sini. Nafasku tertahan, hingga ia benar-benar berlalu dari
pandangan. Lalu menyadari bahwa hatiku perlahan menguntit dunianya. Ya Rabb, ijinkan
aku selalu menahan sosoknya di hadapanku.
Melukis
Tiga puluh menit sejak bel pulang
sekolah berdering. Aku masih di sana, mengitari ruang-ruang kelas yang mulai
mengosong. Mencari inspirasi untuk coretan di kanvasku. Akhir pekan ini aku
harus mengumpulkan satu lukisan untuk objek pameran di sekolah.
“Hai, sedang apa?” suara itu
membuatku mengalihkan pandangan. Berdiri tertegun mendengar sapaannya. Dia
sedang di sana, di hadapanku, memegang kuas dan botol-botol cat air.
“Sedang jalan-jalan,” ucapku
menghampiri. Perlahan, merendahkan badan, ikut berjongkok bersamanya. Berdebar,
tak terelakkan.
“Kakak bikin apa?”
tanyaku padanya, sosok yang kukagumi itu.
“Bikin mading,”
“Oh ya?”
“He’em..temanya beach,” ucapnya
seraya menunjukkan pohon-pohon kelapa yang baru saja ia lukis.
“Untuk kelas?”
“Iya,” ucapnya seraya tersenyum.
Dia suka melukis, begitu pun aku.
Koordinator ilustrator majalah sekolah ini, kini harus bekerja sama dengan
anggota sepertiku. Seseorang yang diam-diam tidak bisa berhenti
memperhatikannya. Seseorang yang berusaha bermain-main di dunianya. Mencari kesempatan
terkecil untuk berada di ruang yang sama
dengannya. Mencatat setiap hal yang disukainya. Melebihkan ia di antara sosok-sosok
lainnya.
“Sudah sore, kenapa tidak
pulang,” tanyanya.
Aku kaget. Keseimbanganku goyah.
Buku yang kupegang pun terjatuh. Ah, aku melamun. Dia tertawa kecil, giginya
yang rapi terlihat. Sepertinya menangkap kegugupanku. Sontak, wajahku terasa
panas. Sepertinya sudah memerah. Dia tertawa lagi. Ah, apakah dia tahu?
Jilbab
5 Mei 2012 lalu, hari dimana aku
mencapai puncak pendidikan di perguruan tinggi. Berulang kali mematut diri di
cermin. Memandang dan menyadari bahwa diriku telah benar-benar berbeda dari tujuh
tahun silam. Bukan karena toga yang kugunakan, atau topi segilima berkuncir
yang baru digeser rektor saat pengukuhan. Bukan, bukan itu. Kerudung inilah yang membuatku benar-benar berbeda. Berubah,
drastis malah.
“Kemana jilbabnya?” tanyanya
ketika menemuiku tak bertutup kepala. Aku tidak bersuara. Malu. Baru kali ini
ada laki-laki yang menegurku karena tak berjilbab. Dan itu adalah dia.
Guru agama sudah berulang kali mengingatkan
siswi-siswinya untuk selalu menutup aurat. Melindungi kehormatan, katanya. Tapi
doktrin itu tidak pernah bersarang di telinga remaja tomboy sepertiku. Potongan
rambut cepak, rok dan baju pendek, aku lebih suka begitu. Lebih ringan, simple
dan tidak gerah.
“Kamu terlihat lebih anggun di
hari Senin dan Rabu,” ucapnya, kemudian berlalu.
Senin dan Rabu? Dalam kamus
hidupku, itu adalah dua hari wajib mengenakan jilbab. Tidak lain karena mata
pelajaran Agama Islam yang terselip di salah satu jam pelajaran hari itu. Hmm..dia
menyukai penampilan Islami yang sebenarnya tidak kulandasi dengan setitik keikhlasan
pun. Menegurku karena tidak menutup auratku.
Ah, aksara apa yang akan keluar
dari bibirnya jika ia melihat diriku dengan pakaian seperti saat ini?
Perpisahan
Jeda itu akhirnya tiba. Satu hari
yang menjadi batasanku untuk berhenti memandangnya setiap pagi. Hari yang
membuatku tidak lagi dapat memperhatikannya mencoretkan warna pada kanvas. Hari
yang melepaskan ikatannya dengan sekolah. Melihatnya mengenakan jas abu-abu
yang sedikit kebesaran, hmm..kurasa jas itu kurang cocok dengan tinggi badannya
yang hanya 158 cm. Wajahnya berseri, sepertinya bahagia sekali. Mengiring kepergiannya
ketika itu membuat hatiku benar-benar biru. Satu tahun berikutnya akan kulalui
tanpa sosok itu. Selamat tinggal hanya sempat kuucap dalam hati.
Mengingat masa lalu. Hihihi...

2 komentar:
Ehm...lagi asik mengenang masa lalu nih,,sopo niku Mabk yang rajin menegur Mbka Rieyha,,apa benar Mbak Rieyha itu tomboy hehehe
Iya, dulu. Sekarang tambah parah. (loh?) hehe...
Posting Komentar