Rabu, 13 Juni 2012

Tujuh Tahun Silam


Ada saat dimana pandangan mata ini tiba-tiba terpaku pada sosok tertentu. Memandangnya lamat-lamat di sudut yang tidak diketahui.

Menunggu
Pagi itu adalah pagi seperti biasanya. Lima belas menit sebelum bel berdering, aku sudah duduk manis di depan ruang kelas. Mengamati sirkulasi kendaraan yang semakin memenuhi tempat parkir. Mataku berkeliaran. Kiri, kanan, tak menentu. Ada yang tengah dicari oleh hatiku. Dia. Dimana dia? Mengapa tak jua muncul? Sejak hari itu, aku menunggunya di sini, setiap pagi. Dia yang tiba-tiba menjadi cerita yang tidak habis terbahas dalam duniaku. Dia yang secara tidak sengaja menjatuhkan hatiku untuk kali pertama. Dia yang selalu ingin kutemui sosoknya dimana pun berada.
Motor berplat W 4769 FK itu akhirnya tampak juga. “Dia datang,” pekikku dalam hati. Sejurus, tidak ada yang kuperhatikan selain sosoknya. Mataku terpaku, lama. Ada yang mendetak lebih kencang, di sini. Nafasku tertahan, hingga ia benar-benar berlalu dari pandangan. Lalu menyadari bahwa hatiku perlahan menguntit dunianya. Ya Rabb, ijinkan aku selalu menahan sosoknya di hadapanku.


Melukis
Tiga puluh menit sejak bel pulang sekolah berdering. Aku masih di sana, mengitari ruang-ruang kelas yang mulai mengosong. Mencari inspirasi untuk coretan di kanvasku. Akhir pekan ini aku harus mengumpulkan satu lukisan untuk objek pameran di sekolah.
“Hai, sedang apa?” suara itu membuatku mengalihkan pandangan. Berdiri tertegun mendengar sapaannya. Dia sedang di sana, di hadapanku, memegang kuas dan botol-botol cat air.
“Sedang jalan-jalan,” ucapku menghampiri. Perlahan, merendahkan badan, ikut berjongkok bersamanya. Berdebar, tak terelakkan.
“Kakak  bikin apa?” tanyaku padanya, sosok yang kukagumi itu.
Bikin mading,”
“Oh ya?”
“He’em..temanya beach,” ucapnya seraya menunjukkan pohon-pohon kelapa yang baru saja ia lukis.
“Untuk kelas?”
“Iya,” ucapnya seraya tersenyum.
Dia suka melukis, begitu pun aku. Koordinator ilustrator majalah sekolah ini, kini harus bekerja sama dengan anggota sepertiku. Seseorang yang diam-diam tidak bisa berhenti memperhatikannya. Seseorang yang berusaha bermain-main di dunianya. Mencari kesempatan terkecil  untuk berada di ruang yang sama dengannya. Mencatat setiap hal yang disukainya. Melebihkan ia di antara sosok-sosok lainnya.
“Sudah sore, kenapa tidak pulang,” tanyanya.
Aku kaget. Keseimbanganku goyah. Buku yang kupegang pun terjatuh. Ah, aku melamun. Dia tertawa kecil, giginya yang rapi terlihat. Sepertinya menangkap kegugupanku. Sontak, wajahku terasa panas. Sepertinya sudah memerah. Dia tertawa lagi. Ah, apakah dia tahu?

Jilbab
5 Mei 2012 lalu, hari dimana aku mencapai puncak pendidikan di perguruan tinggi. Berulang kali mematut diri di cermin. Memandang dan menyadari bahwa diriku telah benar-benar berbeda dari tujuh tahun silam. Bukan karena toga yang kugunakan, atau topi segilima berkuncir yang baru digeser rektor saat pengukuhan. Bukan, bukan itu. Kerudung  inilah yang membuatku benar-benar berbeda. Berubah, drastis malah.
“Kemana jilbabnya?” tanyanya ketika menemuiku tak bertutup kepala. Aku tidak bersuara. Malu. Baru kali ini ada laki-laki yang menegurku karena tak berjilbab. Dan itu adalah dia.
Guru agama sudah berulang kali mengingatkan siswi-siswinya untuk selalu menutup aurat. Melindungi kehormatan, katanya. Tapi doktrin itu tidak pernah bersarang di telinga remaja tomboy sepertiku. Potongan rambut cepak, rok dan baju pendek, aku lebih suka begitu. Lebih ringan, simple dan tidak gerah.
“Kamu terlihat lebih anggun di hari Senin dan Rabu,” ucapnya, kemudian berlalu.
Senin dan Rabu? Dalam kamus hidupku, itu adalah dua hari wajib mengenakan jilbab. Tidak lain karena mata pelajaran Agama Islam yang terselip di salah satu jam pelajaran hari itu. Hmm..dia menyukai penampilan Islami yang sebenarnya tidak kulandasi dengan setitik keikhlasan pun. Menegurku karena tidak menutup auratku.
Ah, aksara apa yang akan keluar dari bibirnya jika ia melihat diriku dengan pakaian seperti saat ini?

Perpisahan
Jeda itu akhirnya tiba. Satu hari yang menjadi batasanku untuk berhenti memandangnya setiap pagi. Hari yang membuatku tidak lagi dapat memperhatikannya mencoretkan warna pada kanvas. Hari yang melepaskan ikatannya dengan sekolah. Melihatnya mengenakan jas abu-abu yang sedikit kebesaran, hmm..kurasa jas itu kurang cocok dengan tinggi badannya yang hanya 158 cm. Wajahnya berseri, sepertinya bahagia sekali. Mengiring kepergiannya ketika itu membuat hatiku benar-benar biru. Satu tahun berikutnya akan kulalui tanpa sosok itu. Selamat tinggal hanya sempat kuucap dalam hati.


Mengingat masa lalu. Hihihi...

2 komentar:

Kang Sofyan mengatakan...

Ehm...lagi asik mengenang masa lalu nih,,sopo niku Mabk yang rajin menegur Mbka Rieyha,,apa benar Mbak Rieyha itu tomboy hehehe

GUNOTIF (Guru Inovatif Kreatif) mengatakan...

Iya, dulu. Sekarang tambah parah. (loh?) hehe...

Posting Komentar