Akan segera hilang yang tampak saat ini. Seperti daun yang dibakar Kemarau. Gugur di tanah
kering. Jemari kecilku tak kuasa mencegah Hujan yang perlahan melambai pergi.
Meninggalkan Kemarau untuk menemaniku. Membayangkan terik dan dahaga yang akan
kurasa, membuat asaku patah. Sepertinya aku tidak akan bisa melewati hari
tanpamu, Hujan, pesimisku. Hatiku merengek meminta Hujan untuk membalikkan
punggungnya yang terlanjur berlalu.
Kemarau bukanlah Hujan yang membiarkan hatiku basah oleh gerimisnya.
Kemarau tidak bisa memberikan aroma sesegar Hujan. Bersama Kemarau, hanya pohon-pohon
meranggas yang bertutur dalam cerita. Hanya rekahan tanah gersang sejauh dataran
terhampar. Tak ada air. Tak ada kesejukan. Kering, kering dan kering. Semakin
kering aku bila ia terus menguntit langkahku seperti ini.
Dalam keputusasaan mengharap hadirnya Hujan, Kemarau berbisik.
“Aku tak segersang yang kau bayangkan, kawan. Dan Hujan tak
sebasah rindumu akannya. Lihatlah aku ketika senja menjemput siang dengan mega
merahnya, rasakan sejuk
semilirnya, hangat mentari yang akan beranjak tidur itu. Ada ketenangan berbeda
yang akan menyentuh pori-pori hatimu,” Kemarau menegosiasi hatiku.
Mungkin ia benar.
Mengapa aku tak mencoba melihat dirinya dari sisi yang berbeda?
“Belum percayakah kau, Kawan?” Aku tak
menggeleng juga tak mengangguk.
“Aku bahkan memiliki malam dengan gugusan bintang yang tak
dimiliki Hujan. Aku bisa menghadirkan mereka dalam pandanganmu tanpa segumpal
awan pun,” kurasa ia mulai congkak.
“Sedangkan Hujan, apa yang bisa ia perbuat selain menangis? Membuat dunia kelabu dan beku
dengan tangisannya itu,” Kemarau benar-benar ingin eksistensinya diakui. Hingga menunjukkan kelemahan Hujan di
depan hidungku.
“Setidaknya Hujan
selalu meringankan derita para awan, memberi nyawa pada jamur-jamur di pohon
tumbang, memekarkan bunga yang semula berupa kuncup. Dan setidaknya, Hujan tak
sesombong dirimu,” ujarku berlalu meninggalkan ia dan kecongkakannya.
14042012 21:29
wib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar