Senin, 16 April 2012

Kemarau Tak Seperti Hujan


Akan segera hilang yang tampak saat ini. Seperti  daun yang dibakar Kemarau. Gugur di tanah kering. Jemari kecilku tak kuasa mencegah Hujan yang perlahan melambai pergi. Meninggalkan Kemarau untuk menemaniku. Membayangkan terik dan dahaga yang akan kurasa, membuat asaku patah. Sepertinya aku tidak akan bisa melewati hari tanpamu, Hujan, pesimisku. Hatiku merengek meminta Hujan untuk membalikkan punggungnya yang terlanjur berlalu.
Kemarau bukanlah Hujan yang membiarkan hatiku basah oleh gerimisnya. Kemarau tidak bisa memberikan aroma sesegar Hujan. Bersama Kemarau, hanya pohon-pohon meranggas yang bertutur dalam cerita. Hanya rekahan tanah gersang sejauh dataran terhampar. Tak ada air. Tak ada kesejukan. Kering, kering dan kering. Semakin kering aku bila ia terus menguntit langkahku seperti ini.
Dalam keputusasaan mengharap hadirnya Hujan, Kemarau berbisik.
“Aku tak segersang yang kau bayangkan, kawan. Dan Hujan tak sebasah rindumu akannya. Lihatlah aku ketika senja menjemput siang dengan mega merahnya, rasakan sejuk semilirnya, hangat mentari yang akan beranjak tidur itu. Ada ketenangan berbeda yang akan menyentuh pori-pori hatimu,” Kemarau menegosiasi hatiku.
Mungkin ia benar. Mengapa aku tak mencoba melihat dirinya dari sisi yang berbeda?
“Belum percayakah kau, Kawan?”  Aku tak menggeleng juga tak mengangguk.
“Aku bahkan memiliki malam dengan gugusan bintang yang tak dimiliki Hujan. Aku bisa menghadirkan mereka dalam pandanganmu tanpa segumpal awan pun,” kurasa ia mulai congkak.
“Sedangkan Hujan, apa yang bisa ia perbuat selain menangis? Membuat dunia kelabu dan beku dengan tangisannya itu,” Kemarau benar-benar ingin eksistensinya diakui. Hingga menunjukkan kelemahan Hujan di depan hidungku.
“Setidaknya Hujan selalu meringankan derita para awan, memberi nyawa pada jamur-jamur di pohon tumbang, memekarkan bunga yang semula berupa kuncup. Dan setidaknya, Hujan tak sesombong dirimu,” ujarku berlalu meninggalkan ia dan kecongkakannya.

14042012 21:29 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar