Jumat, 02 November 2012

Saya Anak Desa


Teringat, pada belasan tahun silam. Ketika bermain menjadi hal yang paling menyenangkan di dunia, dunia kanak-kanak saya. Setiap hari sepulang sekolah saya tidak pernah absen bermain. Bermain apa saja. Mulai dari berbagi jenis olahraga seperti kasti, sepak bola, dan voli. Hingga gundu, petak umpet, gobak sodor, memanjat pohon, bermain layang-layang dan berbagai jenis pemainan yang terkadang terlalu macho bagi seorang anak perempuan seperti saya. Kulit saya hitam mengilat.Bagaimana tidak? jika sahabat paling setia bagi saya adalah matahari terik siang hari?



Patner bermain saya adalah saudara sepupu saya yang rata-rata berusia 2-3 tahun lebih muda dari saya. Mereka setia mendampingi saya dalam serunya permainan. Bermain sampai lupa waktu. Lupa makan. Lupa mengaji. Lupa mandi. Hahaha.. Berbagai 'kelupaan' inilah yang kadang bikin ibu saya murka. Dengan sebatang lidi di tangan kiri dan wajah seram dengan alis dempet, beliau menghampiri saya. Belum apa-apa saya langsung ngibrit kembali ke rumah. Hahaha...

Sekarang? Sangat jarang anak yang bermain permainan tradisional seperti yang saya mainkan dulu. Mungkin karena sudah berbeda jaman. Atau mungkin karena sudah tidak ada lahan. Kanan dan kiri hanya rumah penduduk yang berdempet-dempet. Tidak ada lapangan, apalagi sawah. Ah, kasihan sekali anak-anak kota. Mereka lebih suka berlarut-larut dalam games dan gadget baru pemberian orang tua. Tidak tahu bagaimana asyiknya berlarian menantang matahari, memanjat pohon, tercebur di sungai dan mencari tebu di sawah.

Ah, Tuhan.. Saya bersyukur dilahirkan, dibesarkan dan menjadi anak desa.

2 Nopember 2012 11:29 wib

3 komentar:

Didikz mengatakan...

wihi ternyata masa kecil kita tidak jauh beda ya :D

Tekno Muslim

GUNOTIF (Guru Inovatif Kreatif) mengatakan...

yups...masa2 yg mnyenangkan..

Achmad Syauqie mengatakan...

tapi meskipun kita dari desa, semangat kita untuk belajar tidak kalah dari anak kota.

Posting Komentar